Two kinds of knowledge in an organization are tacit and explicit knowledge. These terminologies were introduced by Nonaka (1994). Explicit knowledge (EK) is a knowledge that can be transfered formally using systematic language. For example, knowledge in a book or a document (Conklin, 1996 in Hildreth and Kimble, 2002). Otherwise, tacit knowledge (TK) is difficult to transfered and touched. TK is root for individual action and commitment in centain context. For example, team work activities, professional, craftman, etc.
Some terminologies can be founded for these kinds of knowledge. They are (in Hildreth and Kimble, 2002):
Explicit knowledge: formal knowledge (Conklin, 1996), know-what (Brown and Duguid, 1998), hard knowledge (Hildreth and Kimble, 2002).
Tacit knowledge: informal knowledge (Conklin, 1996), know-how (Brown and Duguid, 1998), soft knowledge (Hildreth and Kimble, 2002).
Some scholars give a strict definiton for TK and EK. For example Coklin in Hildreth and Kimble (2002). On the other hand, some scholars believe that TK and EK are in a continous spectrum. On one extreme point is TC, and on the other one is EK. TK is a subjective experience and generated “here and now”; otherwise, TK is an objective one and generated “then and there”. Most of knowledges are between these extreme points (Leonard and Sensiper, 1998 in Hilderth, 2002). Meanwhile, Nonaka (1994) state that EK and TK are completing each other, so sometimes will be found EK in TK creating process. Scholars are limited discussing of EK because this knowledge can be found physically, transmittalbe, storage and retrieve easily.
TK consists of two elements: technical and cognitif. Technical dimension consists of skill, know-how, and expertise which is come from experience and repeatedly using. Meanwhile, cognitive element (mental model) is an element where people create an analogy about something in their mind. This element comprises some one’s schemata, mental models, belief, and perception (Nonaka, 1994).
According Howells (1996), TK can be generated from inside or outside organization. From inside organization, by determining every individual’s TK in organization, and the necessary effort to support every individual learning in order that increase “know-how” competence. From outside, by consulting with an expert, networking with other organizations, recruiting employee whose has required education or certain experience, and forth.
There is another kind of knowledge in organization. It is implicit knowledge (IK). Some scholars states that this knowledge is between EK and TK. According to Wilson (2002), IK can be expressed. He also stated that TK which defined by Nonaka, actually is the IK. IK is a knowledge which its articulated process is unperfect. IK is a TK that can be converted to EK (Newman, 2000). The process of making a cup of coffee is a good example to explain this knowledge. There are some sub-process in it: choicing the coffee seeds, how to use the coffe mechine, coffee type, number of water, and forth. There is addition explaination for all of its. For example, the expert will explain how to choose the best coffee seeds. This explaination is IK.
As conclusion, there are three kinds of knowledge in organization. They are tacit, implicit and explicit knowledge. But, I prefer to divide it into tacit and tacit knowledge because knowledge is a spectrum where there always will be implicit knowledge in both of its.
Reserch-design framework was introduced by Hevner and colleagues. This kind of research method combines two research paradigms: behavioral science and design science. Behavioral science try to develop and verify a theory that explain and predict the business needs, for example. Meanwhile, design science produce usefull thing to solve a problem. Both of the paradigmns are using to create the information system reseach framework.
As can be seen in Figure 1, business needs are defined in an environment. Information system research must relevant to an environment; therefore, the result can be applied and is the best solution to achieve business goal. Environment consists of human, technology and organization. Human define business needs using his role, capability and character. Business needs are evaluated in the context of strategy, structure, organization culture, and business process, with technology support.
The foundation and methodology in knowledge base will be analysed to search the best solution for the defined problem. Foundation consists of theory, framework, instrument, contruct, model, method and instantiation. Meanwhile, methodology provide a guidance in verify and instiation phase. Rigor can be found by applying the foundation and methodology.
Business needs solutions can be found by knowledge supporting that can be used to develop or generate theory and artefact. Artefact is a result which can be a constructrution, model, methode and instatiation from knowledge base. The theory or artifact verified or evaluated by analysis, case study, experiment, field study, or simulation. The contributed result for environment can be an artefact that can be used, and add something to knowledge base for the next research or application.
Figure 1. Hevner’s design research (pg.80)
Reference:
Hevner, A. R., Martch S.T., Park, J. dan Ram, S., 2004, Design Science In Information System Research, MIS Quarterly, 28(1), 75-105.
Konon, Newton kejatuhan buah apel ketika tengah bersantai di bawah pohon apel. Kemudian, “AHA!”, keluarlah ide tentang gravitasi. Menunggu bintang jatuh, hasil semedi atau wangsit untuk menghasilkan ide-ide segar tidak berlaku lagi saat ini, dimana setiap orang dituntut untuk bertindak cepat dan tepat. Agar memenangkan perasingan, perusahaan harus senantiasa melakukan inovasi. Untuk lulus segera, mahasiswa harus melakukan penelitian (skripsi, tesis atau disertasi) yang berbeda dari penelitian-penelitian yang telah ada.
Think out of box. Berpikir di luar kotak alias di luar kebiasaan. Ini adalah jargon yang sering kita dengar jika ingin menghasilkan ide atau menjadi pribadi kreatif. Bagi yang memang baru belajar untuk menjadi pribadi kreatif, pasti bingung. Box-nya yang mana (hihihi), cara berpikirnya seperti apa, sebagainya.
Sebelum lebih jauh, yuk kita pahami dulu definisi dari kreatif itu sendiri. Ummm, definisi kreatif ada banyak, bergantung dari sudut pandang yang digunakan. Definisi dari sisi psikologi akan berbeda dengan definisi yang diberikan orang-orang ekonomi. Tapi saya menyukai definisi yang ini:
“Creativity typically defined as the generation or production of ideas that are both novel and useful.”
“Kreatifitas biasa didefinisikan sebagai pembangkitan atau pembentukan ide yang bersifat baru dan bermanfaat.” (George, 2007 dalam Loewenstein, 2010).
Nah, dari definisi itu bisa kita ketahui:
Hasil dari kreatifitas itu berupa ide. Artinya, prosesnya lebih pada proses dalam otak (kognitif). Artinya lagi, harus ada tindakan nyata untuk mewujudkannya. Kalau orang-orang industri menyebutnya dengan inovasi.
Syarat utama kreatif adalah: BARU dan MANFAAT. Baru artinya berbeda dari yang telah ada. Bisa baru dalam hal bahan, proses atau hasil akhirnya. Manfaat artinya memberikan nilai guna bagi yang menjalankan proses kreatif.
Contoh kreatifitas misalnya mobil dengan memanfaatkan tenaga surya. Karena mobil pada umumnya menggunakan bensin atau solar.
Penelitian mengenai kreatifitas ada banyak. Namun proses kreatif itu sendiri seperti berada dalam kotak hitam (black box) di tengah malam yang mendung, plus gerhana bulan . Setelah berburu referensi, alhamdulillah, akhirnya menemukan yang bisa menjelaskan bagaimana proses kreatif di otak itu terjadi. Dengan mengetahui ini, menjadikan proses kreatif bisa kita kontrol, sehingga ketika kita membutuhkan ide-ide segar, proses kreatif dapat kita jalankan pada saat itu juga.
Gambar 1. Proses Kreatif (Loewenstein dkk, 2010)
Loewenstein dkk (2010) menyatakan bahwa kreatifitas dihasilkan dari mengubah sudut pandang terhadap sesuatu. Proses kreatif yang Beliau usulkan seperti pada gambar 1. Tahapan dalam melakukan proses kreatif:
Conception. Kesadaran manusia terhadap konsep yang relevan dan dapat digunakan di luar persoalan yang dihadapi,
Elaboration. Selanjutnya konsep tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan representasi permasalahan yang baru.
Accommodation. Proses menyesuaikan dan menggabungkan interpretasi ulang dari masalah lokal ke dalam representasi masalah yang lebih besar sehingga dapat mengubah representasi masalah ke dalam bentuk baru.
Contoh kasus:
Ingin berjualan bakso yang lain daripada yang lain.
Conception: alternatif pengganti daging sapi dan proses pengolahannya menjadi bakso yang enak, seenak bakso sapi. Hasilnya pada tahap ini pastinya berupa daftar alternatif.
Elaboration: hasil dari conception diramu sedemikian rupa hingga menghasilkan bakso baru. Misalnya bakso tempe.
Accommodation: masalah pembuatan bakso merupakan bagian dari usaha bakso. Sehingga perlu dikaji juga masalah lain yang terkait untuk berjualan bakso yang beda dengan yang telah ada. Misalnya mengenai cara pemasarannya.
Hasil akhir misalnya lahirlah bakso tempe, bakso isi (menggunakan konsep roti isi). Bakso panggang (menggunakan konsep sate), dan sebagainya.
Konsep penting lahirnya kreatifitas adalah interaksi (Woodman dkk, 1993; Fischer dkk, 2005). Baik interaksi secara langsung maupun melalui teknologi seperti grup, mailing list, dan sebagainya.
Naaah, jauh hari sebelum para pakar menemukan teori kreatifitas, Islam melalui Rasululloh Muhammad SAW telah mengajarkan umat Islam untuk kreatif. Salah satunya adalah tentang anjuran untuk mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang sholat Idul Fitri atau anjuran untuk memperbanyak silaturahmi. Karena saat melintasi jalan yang berbeda, saat itu lah kita sedang berproses untuk think out of box. Dan ketika kita bersilaturrahmi, saat itulah terjadi interaksi untuk menghasilkan ide-ide kreatif.
“Beliau keluar menuju ‘Iedain (tempat sholat ied-red) dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melewati jalan yang lain. “ (Ibnu Majah, Shahihul Jaami’: 4933)
Referensi:
Fishcer, G., Giaccardi, E., Eden, H., Sugimoto, M., dan Ye, Y., 2005, “Beyond binary choices: integrating individual and social creativity”, International Journal of Human-Computer Studies, 63.
Loewenstein, J., & Cronin, M. A. (2010, November). The creativity cycle and the possibility of producing creative ideas efficiently. INFORMS Annual Meeting, Austin, Texas.
Woodman, R. W., Sawyer, J. E., dan Griffin, R. W., 1993, “Toward a Theory of Organizational Creativity”, The Academy of Management Review, 18 (2), 293-321.
#Saya sendiri masih berusaha menjadi pribadi kreatif
“Saya salah strategi, Mba. Dosen yang saya pilih termasuk yang sulit kasi nilai. Beberapa teman yang mengulang mata kuliah itu tapi dengan dosen yang berbeda dapat nilai bagus-bagus. Masa nilai saya sama dengan teman-teman yang ga bisa mata kuliah itu. Saya kan mengajar mata kuliah itu di tempat saya mengajar. Lha, dianya aja tesisnya dibuatin suaminya, kok. Kemaren pas siding tidak ada pertanyaan yang diajukan penguji karena materinya sangat mudah. Bahkan pembimbinganya tidur pas sidang. Terus Mba, kemaren ditanya teman kantor nilai sidang tesis saya. Duh, saya rasa gimana gitu, karena saya cuma dapat B.” Curhat teman kos saya.
”Tenang aja, Bu. Kualitas kita tidak ditunjukkan oleh nilai,” ujar saya coba menanggapi.
“Tapi kan orang-orang melihatnya dari nilai kita.” Nah, kalau jawabannya ini, saya tidak bisa berkata-kata lagi.
Ini nih sumber kesengsaraan: penilaian orang lain. Kalau sudah begini, belajar pun dijalani dengan orientasi mendapatkan nilai. Bahkan ada yang nyata-nyata bilang ke saya, Cuma ngejar ijazah biar bisa naik jabatan.
Di New Zerland, penilaian diberikan berdasarkan perubahan pemahaman murid. Misalnya seorang anak yang telah memiliki modal pemahaman 8, lalu meningkat menjadi 10 (peningkatan 2) tidak menjadikannya lebih baik dari anak yang bermodal 0 kemudian pemahamannya meningkat hingga level 5 (peningkatan 5). Sementara di negeri kita, banyak nilai diberikan berdasarkan nilai pada lembar jawaban ujian. Padahal bisa jadi ketika ujian, pelajar tersebut sedang sakit atau menggunakan teknologi untuk memudahkan mendapat jawaban ketika ujian close book.
Kenapa kita tidak menikmati proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu? Sekolah atau kuliah merupakan pintu gerbang untuk memasuki dunia pengetahuan tertentu. Aktifitas belajar sesungguhnya adalah setelah keluar dari tempat kita belajar. Bagaimana menerapkan dan mengembangkan dasar-dasar yang kita peroleh dari tempat kita menuntut ilmu.
Ini sudah menjadi budaya di negeri kita. Budaya yang harus diganti. Mulainya pasti dari diri sendiri. Karena budaya itu merupakan sistem sosial dan sistem sosial dibentuk dan dijalankan oleh individu-individu yang ada di dalam sistem tersebut. Individu yang menjadi pengajar menerapkan sistem penilaian holistic, artinya tidak hanya menggunakan nilai “hitam di atas putih” alias nilai ujian dan individu yang menjadi pelajar perlu menyadari bahwa kita belajar untuk bekal hidup di dunia dan akhirat, bukan sekedar nilai “hitam di atas putih” alias ijazah.
Akhirnyaaaa bisa menulis lagi. Belakangan riweuh ngurusin si bungsu masuk sekolah di Jogja dan memasukkan Ibu di program bimbingan muslimah masa keemasan (BM2K) di Bandung. Tuh, tumpukan baju kotor masih ada yang tersisa. Mo nulis dulu aaah.
BM2K adalah salah satu program nyantri yang diadakan oleh pesantren Daarut Tauhid (DT) Bandung. Pengokohan tauhid, pembiasaan ibadah dan persiapan kematian yang menjadi fokus program ini. Pesertanya dibatasi pada wanita berusia > 50 tahun. So, saya belum masuk itungan dong ya . Setiap peserta akan tinggal di muslimah center DT selama 40 hari. Pendidikannya sendiri dilaksanakan senin-jum’at dengan agenda harian:
07.00 wib istirahat, sarapan, bersih-bersih dan sholat dhuha.
09.00-17.30 wib diantara jam ini, ada 1 atau 2 materi yang disampaikan.
Kalau malam hari tidak ada acara.
Puasa sunah senin-kamis (makan sahur disediakan baik yang mengikuti katering maupun yang tidak).
Nah, awalnya Ibu saya menolak karena saat saya memberitahu, saya bilang ada “program buat nenek-nenek”. Qiqiqi. Langsung deh Ibu protes, “Ibu kan belum nenek-nenek.” Iiih, padahal uda punya cucu satu tuh.
Rincian biaya:
pendaftaran Rp 100.000
pendidikan Rp 2.000.000
laundry Rp 150.000
katering Rp 500.000 (biasanya Rp 450.000. Berhubung ini nanti sebagian pada bulan ramadhan, jadi pihak kateringnya akan menyediakan takjil)
Biar fokus belajar dan ga ribeut akan hal-hal lain, bisa mengambil seluruh paket tersebut. Kalau mau murah bisa saja mencuci sendiri atau laundry di luar. Laundry yang termurah Rp 3.000/kg selesai 3 hari kemudian. Kalau yang 1 hari selesai Rp 8.000/kg. Kalau makan sangat bergantung pada jenis makanan yang dibeli. Terhitung lebih mahal menurut saya. Misalnya nih, nasi padang deket DT Rp 10.000, nasi rames pake ikan+sayur sekitar Rp 7.000. Belum lagi harus bolak-balik ke warungnya. Kalau ketering menunya kan 4 sehat. Ah, uang yang dititipkan Alloh kepada kita pasti akan habis. Tinggal bagaimana kita memilih cara untuk menghabiskannya.
Setelah dibujuk, dirayu dan dipaksa, akhirnya Ibu bersedia. Alhamdulillah. Soalnya, barangkali ini terakhir kalinya saya bisa lama di Bandung seiring dengan berakhirnya study saya. Insya Alloh. Mumpung ada kesempatan dan juga karena separuh waktu program ini akan ada di bulan ramadhan +- 20 hari. Semoga ibadah Ibu di bulan suci meningkat karena terpantau oleh panitia.
Tanggal 13 yang lalu mengantar Ibu untuk masuk ke asramanya di muslimah center. Hari itu semua peserta diperiksa kesehatan, wawancara psikologis, tes mengaji untuk menentukan pengelompokan dan pengukuran baju seragam. Hihihi, serasa mengantar masuk sekolah.
Peserta akan tidur bersama-sama dalam satu kamar. Ada yang berisi 8, 7, 5 dan 3 orang. Awalnya Ibu masuk kamar yang berisi 5 tapi minta pindah ke kamar yang berisi 3. Saya sih milih yang ramai, biar lebih bisa kenal lebih banyak orang. Tapi ya sudahlah, toh Ibu yang akan menjalaninya. Setiap orang mendapat jatah 1 kasur tanpa tempat tidur (dipan). Nah, saya teh lupa, Ibu kan kakinya kena asam urat, tuh. Jadi kadang sulit bangun. Bisa pesan pakai tempat tidur selagi masih tersedia (ada 3). Akhirnya diakali dengan menumpuk 2 kasur. Malam itu saya menemani Ibu tidur di sana. Teman sekamar Ibu adalah Bunda Nung dari Pajajaran, Bandung dan Mami (namanya lupa) dari Bogor. Mereka baik-baik. Alhamdulillah.
Ibu tercinta
Beberapa hari belakangan dan ke depan, saya menerima sms laporan dan adik dan Ibu yang mengabari kegiatan mereka.
Adik:
“Jam 21.00 HP diambil pengurus, Yuk (singkatan dari ‘Ayuk’. Panggilan untuk kakak perempuan di Jambi-red).”
“Seragam batik Adek belum jadi, besok mau dipakainya.”
Ibu:
“Ka (singkatan nama saya ‘Tika’-red), Aa’ Gym ceramah.”
“Ka, Ibu baru pulang dari masjid, habis dengerin ceramah Aa’ Gym. Besok habis sholat subuh mo jalan-jalan.”
Pesan saya hampir sama kepada kedua orang tercinta tersebut.
“Belajar yang rajin. Kalau tidak tahu, bertanyalah sampai mengerti. Tidak perlu malu. “
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Humaidi (1/143) no. 299, Ahmad (6/322), Ibnu Majah no. 925)
Tahun ini, adik bungsu saya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Dari jauh hari saya sudah mengusulkan agar si adik melanjutkan di Yogyakarta saja. Tujuannya agar wawasannya terbuka, mengenal dunia di luar Jambi. Agar tidak seperti katak dalam tempurung. Setelah dibujuk oleh kami sekeluarga, alhamdulillah dia bersedia. Tuuuh, orangnya sedang tertidur lelap setelah di bekam untuk pertama kalinya tadi.
Awalnya saya ingin memasukkan dia ke pesantren penghafal Qur’an. Namun khawatir dia terkejut karena selama ini dia belajar di sekolah umum. Semoga, suatu saat ketika Alloh telah mengizinkan, dia akan menjadi seorang penghafal Qur’an yang memiliki kompetensi akademik. Akhirnya saya putuskan untuk menyekolahkannya di SMAIT Abu Bakar Yogyakarta. Saya tertarik karena sekolah ini memiliki program boarding school. Para siswa yang mengikuti progaram ini akan tinggal di asrama. Di sana mereka akan dibiasakan untuk sholat tahajud, mengaji, bicara bahasa arab dan inggris dan sebagainya. Selain itu, dengan berpisah dari keluarga, saya berharap Adik bisa hidup mandiri. Maklum, selama ini dia selalu berada dalam bayang-bayang Bunda yang memanjakannya.
Bersiap masuk asrama
Tadi siang saya mengantar adik untuk daftar ulang. Subhanalloh, saya suka dengan metode belajarnya. Sekolah ini memiliki ruang belajar berdasarkan jenis pelajarannya. Mereka memiliki ruang sains, ruang bahasa dan sebagainya. Siswa akan berpindah kelas sesuai dengan mata pelajarannya. Jika saatnya belajar bahasa inggris, mereka akan masuk ke ruang bahasa, jika mereka belajar IPA maka mereka akan berpindah ke ruang sains. Ini bagus menurut saya. Karena memberikan siswa suasana baru dan proses berpindah tersebut dapat menghilangkan rasa kantuk.
Sekolah ini tidak memiliki banyak murid tapi insya Alloh tidak mengurangi kualitasnya. Ini terbukti beragam tropi dan mendali penghargaan yang saya lihat di kantor administrasinya.
Salah satu faktor muridnya sedikit barangkali karena biaya pendidikannya yang tergolong mahal. Mungkin mahal itu karena orang tua harus membayar makan siang yang diberikan kepada siswa karena program pendidikan di sini adalah Full day school artinya pelajaran dilakukan dari pagi hingga sore hari. Sedangkan program boarding school, pelajaran di sambung setelah maghrib hingga pukul 22.00 malam.
Saya berharap setelah lulus dari sekolah ini, si adik memiliki tauhid yang kokoh, bisa sholat secara baik dan benar, mengaji dengan makhrojul khuruf yang benar, memiliki hafalan setidaknya 2 juz, memiliki pemahaman Islam yang baik dan memiliki kompetensi akademik sesuai dengan potensi yang dia miliki.
Dan peran sebagai orang tua pun mulai saya lakoni. Bismillah.
Yoyoh Yusroh, siapa Beliau? Beliau adalah salah satu anggota Komisi 1 DPR RI. Beliau wafat pada 21 Mei 2011 yang lalu dalam sebuah kecelakaan mobil, namun wajah Beliau tersenyum (foto) dan sempat mengucapkan kalimat syahadat sebelum meninggal.
Walaupun tidak pernah bertemu secara langsung, Beliau memberi banyak inspirasi bagi perempuan Indonesia. Selain sebagai anggota dewan, Beliau adalah seorang ibu dengan 13 orang anak dan aktivis perempuan. Dengan anak 13 orang dan aktivitasnya yang padat, Beliau tetap menjalankan tahajud, menghafal dan tilawah (membaca) Al-Qur’an secara rutin.
Saya ingin menyimpan dalam blog saya ini, sebagai bahan pengingat dan penyemangat. Mengingatkan bahwa kematian itu sangat dekat. Mengingatkan bekal apa yang sudah saya persiapkan untuk hidup setelah mati nanti. Mengingatkan bahwa kita hidup adalah untuk beribadah kepada Allah, hingga jangan sampai hati disibukkan akan hal-hal tidak penting. Dan mengingatkan untuk senantiasa menjaga keikhlasan. Menyemangati bahwa ada surga yang menanti di sana.
Ada SMS yang dikirimkan Beliau kepada temannya 2 hari sebelum kejadian:
Ya Rabb, aku sdg memikirkan posisiku kelak di akhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita Khadijah Al Kubro yang berjuang dengan harta dan jiwanya?
Atau dengan Hafsah binti Abu Bakar yang dibela Alloh saat akan dicerai karena showwah dan qowwamahnya?
Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 hadits, sedang aku.. ehm 500 juga belum…
Atau dengan Ummu Sulaim yang shobiroh
Atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad
Atau dengan siapa ya?
Ya Alloh, tolong beri kekuatan tuk mengejar amaliah mereka, sehingga aku laik bertemu mereka di taman firdaus-Mu.
Beliau sempat memberikan taujih terakhir dalam sebuah video beberapa hari sebelum kecelakaan. Di sana Beliau mengatakan, “insya Alloh, kita akan bertemu di surga.”
From: Yoyoh Yusroh
Date: 2011/5/18
Subject: Nasihat untuk sang putera
To: Aizza Jundana
Nasihat Seorang Arab Kepada Putranya
(Ukht/ Nayifah Uwaimir)
Wahai puteraku …
Agar engkau menjadi seorang raja yang berwibawa di hadapan manusia ..
Janganlah berbicara dalam berbagai urusan ..
Kecuali setelah mengecek kebenaran sumbernya ..
Dan jika seseorang datang membawa berita, cari bukti kebenarannya sebelum dengan berani engkau berbicara ..
Hati-hati dengan isu .. jangan percayai setiap yang dikatakan, jangan pula percaya sesuatu yang setengah engkau lihat ..
Dan jika engkau mendapatkan cobaan berupa seorang musuh .. hadapi dengan berbuat baik kepadanya .. tolak dengan cara yang lebih baik, niscaya permusuhan itu berubah menjadi cinta kasih
Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”.
Jika engkau diserang banyak orang sementara engkau berada di atas kebenaran .. atau jika engkau diserang dengan kritikan-kritikan buruk .. bergembiralah .. sebab mereka sebenarnya sedang berkata: “engkau orang yang sukses dan berpengaruh”, sebab,
· anjing yang mati tidak akan ditendang,
· dan tidak dilempar kecuali pohon yang berbuah
Wahai puteraku ..
Jika engkau hendak mengkritik, biasakan untuk melihat dengan mata tawon lebah .. dan jangan memandang orang lain dengan mata lalat, sebab engkau akan terjatuh kepada perkara yang busuk!
Tidurlah lebih awal wahai puteraku agar bisa bangun lebih awal .. sebab keberkahan ada di pagi hari, dan saya khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan rizki Allah yang Maha Penyayang disebabkan engkau begadang di malam hari, sehingga tidak bisa bangun pagi!
Akan aku ceritakan kepadaku kisah seekor kambing dan serigala, supaya engkau aman dari orang yang berbuat makar ..
Dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu, jangan sampai engkau mengkhianatinya!
Akan aku ajak engkau ke sarang singa .. akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak menjadi raja hutan dikarenakan aumannya!!
Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi! Tidak mau memakan hasil buruan binatang lain, betapapun ia lapar .. dan perutnya melilit-lilit .. jangan mencuri jerih payah orang lain .. sebab engkau menjadi keji!
Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”.
Wahai puteraku ..
Biasakan engkau bersyukur .. kepada Allah! Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur kepada-Nya bahwa engkau dapat berjalan, mendengar dan melihat!
Bersyukurlah kepada Allah, dan syukuri pula manusia .. sebab Allah SWT akan menambah orang-orang yang bersyukur
Dan manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu menghargainya!
Wahai puteraku .. ketahuilah bahwa sifat utama yang paling agung dalam kehidupan ini adalah sifat jujur!
Dan bahwasanya kebohongan, meskipun tampak memberi keselamatan .. namun jujur lebih berakhlaq bagimu! Dan bagi orang sepertimu!
Wahai puteraku …
Persiapkan alternatif untuk segala urusan .. agar engkau tidak membuka jalan kehinaan!
Manfaatkan segala peluang .. sebab peluang yang datang sekarang .. bisa jadi tidak akan berulang!!
Jangan berkeluh kesah .. aku harap engkau optimis .. siap menghadapi kehidupan ..
Jauhilah orang-orang yang putus asa dan pesimis, lari dari mereka! Dan jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada segala hal!!
Jangan bergembira saat melihat orang lain terkena musibah .. jangan pula menghina orang karena postur atau penampilannya ..
Sebab dia tidak menciptakan dirinya .. dan saat engkau menghina orang lain, pada hakekatnya engkau menghina ciptaan dari Dzat yang Maha Mencipta dan Membuat bentuk rupa
Jangan membuka aib orang, sebab Allah akan membuka aibmu di rumahmu .. sebab Allah-lah Dzat yang menutupi .. dan mencintai orang yang menutupi!
Jangan menzhalimi siapa pun .. dan jika engkau hendak menzhalimi dan engkau merasa mampu menzhalimi, ingatlah bahwa Allah SWT lebih mampu!
Jika engkau merasa hatimu mengeras, usaplah kepala anak yatim .. engkau akan terheran-heran .. bagaimana usapan itu dapat menghilangkan rasa keras hati dari hatimu, seakan hatimu menjadi pecah dan melunak!
Jangan mendebat .. dalam perdebatan .. kedua pihak merugi.
Kalau kita yang kalah, kita merugi telah kehilangan kebesaran kita, dan jika menang, kita juga merugi, telah kehilangan orang lain yang menjadi lawan debat kita .. semua kita kalah .. baik yang merasa menang .. dan yang merasa belum menang!
Jangan monopoli pendapat .. yang bagus adalah engkau mempengaruhi dan dipengaruhi!
Hanya saja, jangan larut dalam pendapat banyak orang .. dan jika engkau merasa bahwa pendapatmu benar .. tegarlah dan jangan terpengaruh!
Wahai puteraku ..
Engkau dapat merubah keyakinan orang .. dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi .. namun, dengan senyumanmu .. dan kosa katamu yang lembut .. dengan keduanya, engkau dapat menyihir!!
Oleh karena itu, tersenyumlah .. maha suci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!!
Di Cina .. jika engkau tidak murah senyum, mereka tidak akan berikan lisensi kepadamu untuk membuka kedai ..
Jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!
Jika bibirmu terbuka karena senyuman .. dengan cepat .. terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya
Jika orang meragukanmu, bela dirimu .. jelaskan .. dan beri keterangan pembenarannya!
Jangan suka nimbrung dan mengenduskan hidungmu dalam segala urusan .. jangan pula ikut-ikutan, berposisi bersama banyak orang saat mereka bersikap!!
Wahai puteraku .. jauhkan dirimu dari hal ini .. aku sangat tidak suka kalau melihatmu seperti ini!!
Jangan bersedih wahai puteraku terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan! Sebab kita tidak diciptakan kecuali untuk diuji dan diberi cobaan .. sehingga Allah melihat kita .. adakah kita bersabar?
Karena itu .. santai saja .. jangan keruh hati! Yakinlah bahwa jalan keluar dekat ..
“jika mendung semakin hitam, pertanda, sebentar lagi hujan”!!
Jangan meratapi masa lalu, cukuplah bahwa ia telah berlalu .. sia-sia kalau kita memegang gergaji kayu, lalu menggergaji!!
Tataplah hari esok .. persiapkan diri .. dan singsingkan lengan baju untuk menghadapinya!!
Jadilah orang yang mulia .. berbanggalah dengan dirimu!
Sebagaimana engkau melihat dirimu, begitulah orang lain akan melihatmu ..
Jangan sekali-kali meremehkan dirimu!! Sebab engkau menjadi besar saat engkau ingin besar .. hanya engkau saja yang memutuskan ia menjadi kecil!
Yoyoh Yusroh
Komisi I DPR RI
Sent from my iPad
Duhai Alloh, anugerahkanlah kepada kami qalbun saliim. Hati yang total menghamba kepada-Mu. Hati yang senantiasa bersujud kepada-Mu. Hati yang hanya Engkau bertahta di dalamnya. Hingga tiba giliran kami, giliran kami untuk berjumpa dengan-Mu, duhai yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Studying. I do love this activity. Even though i have to face a hectic situation. Many times. Yeah, because of the homeworks, papers, exams and the last one, the thesis. But i love all of those moments. The moment when i must read so many papers, not sleep at nights, sharing knowledge with my friends or discuss with my lecturers. I always tell myself to be grateful. Because not everybody given the chance to have those experiences.
Well, i am still trying my best to finish the thesis as soon as possible but i think, i am gonna be missing all those moments.
Ini adalah tempat kesekian kalinya yang saya datangi. Panas menyengat Yogyakarta benar-benar membuat saya rindu akan Bandung. Alhamdulillah, saya bisa disejukkan dengan keramahan pegawai home industry batik tersebut.
Setelah bertanya kepada pegawai di bagian showroom, saya diantarkan ke bagian belakang gedung yang ternyata merupakan tempat produksi batik. Saya berhadapan dengan Pak Hadi, kepala bagian produksi. Usianya saya kira sudah 60 tahunan. Setelah Beliau menyatakan tidak keberatan, dilanjutkan dengan berkisah mengenai industri Batik di Jogja
Ada 21 orang yang bekerja di bagian produksi. Ternyata, tempat ini memproduksi batik tulis sejak tahun1950. Dan Beliau sudah ada di sana sejak 1959. Yang membuat saya terkejut bukan kepalang adalah dulu perusahaan ini memiliki 100-an pegawai yang membatik di perusahaan dan yang bekerja di rumah masih-masing 400-an orang. Ah, tidak pantas untuk disebut sebagai home industry.
Penjualan menurun dan banyak yang gulung tikar sejak maraknya penggunaan mesin tekstil yang dimulai pada zaman Soeharto. Menurut Beliau saat itu Bu Tien Soeharto mendorong penggunaan mesin-mesin tekstil buatan Cina. Nah, jika yang dihasilkan mesin, itu bukan batik tapi tekstil bermotif batik. Duuh, malunya saya karena saat itu saya mengenakan tekstil bermotif batik. Hal itu diperburuk dengan masuknya produk-produk tekstil bermotif batik dari Cina.
Beliau juga menceritakan bahwa dulu ada perhimpunan pengusaha batik yang bertugas mengontrol iklim industri batik tanah air. Pembelian bahan (kain, malam atau lilin batik dan lain-lainnya) dijatah, harga terkontrol dan seterusnya. Pemerintah ikut andil. Tapi saat ini perhimpunan tersebut tinggal nama dan hanya pegawai yang menempati kantor (Saya pernah diajak teman ke tempat itu. Ada seperti gudang di bagian depan kantor. Sangat sepi. Padahal kata teman saya yang merupakan seorang pengrajin batik itu, bahan-bahan membatik dijual lebih murah dari pasaran). Beliau melanjutkan, saat ini bahan-bahan membatik itu dikuasai pengusaha etnis tertentu. Sehingga mereka memainkan harga dengan seenaknya. Kadang bahan-bahan tersebut ditimbun hingga terjadi kelangkaan. Saat itulah mereka menjualnya dengan harga melangit. Misalnya harga bahan campuran membuat malam awalnya sekitar Rp 13.000 menjadi Rp 36.000. Belum lagi bahan bakar minyak bumi yang harus digunakan untuk menjaga agar malam tetap cair.
Beliau melanjutkan bahwa saat ini antara produksi dan pemasaran tidak seimbang. Mereka hanya mengandalkan 1 showroom tersebut. Mereka bekerjasama dengan travel agent saja. Jika ada yang turis mancanegara, akan dibawa ke showroom tersebut. Saya sangat mengerti karena harga batik tulis harganya lebih mahal dari hasil mesin. Belum lagi jika menggunakan pewarna alam, warna-warna yang dihasilkan dari dedaunan maupun beragam jenis pohon yang aman bagi kulit. Harganya bisa 5 kali lipat atau lebih dari harga dengan pewarna sintetis. Biasanya peminat batik berkualitas begini adalah orang-orang luar negeri. Daya beli masyarakat Indonesia belum mampu.
Saya tidak mengetahui bagaimana strategi marketingnya. Karena saya pikir dengan menggunakan usia yang cukup tua tersebut, harusnya memberi efek pada jumlah penjualan yang tinggi. Entahlah.
Perusahaan batik ini memiliki idealisme bahwa yang namanya batik adalah semua proses produksinya dikerjakan dengan tangan dan walaupun seandainya nanti tersisa hanya 5 orang, mereka akan tetap produksi untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Lalu saya tambahkan “asli”. Kebudayaan asli Indonesia. Karena jika sudah menggunakan mesin, sudah bukan batik asli lagi.
Pulang dari sana hati saya menangis. Apa artinya pengakuan UNESCO sebagai warisan bangsa Indonesia, jika kita sendiri tidak mampu melindungi pengrajin batik-pengrajin batik kita. Jika mereka tutup, maka batik akan berhenti diproduksi dan akan hilang. Belum lagi jumlah tenaga kerja yang harusnya bisa mereka serap. Perusahaan sebelumnya juga mengalami hal yang sama, saya pikir. Karena alasan mereka menolak saya adalah saat ini mereka lebih pada usaha workshop pembuatan batik. Ya Rabbi, sesak sekali dada ini. Apa yang bisa saya lakukan???
Saya baru tahu kalau kemarin adalah hari perfilman Indonesia. Sebagai orang yang suka nonton film, sudah seharusnya saya posting mengenai sejarah (hari) perfilman nasional. Saya sangat berharap industri film Indonesia dapat menghasilkan film-film yang berbobot dari sisi isinya. Tidak sekedar ‘nge-junk’ atau malah merusak masa depan generasi bangsa ini.
Oleh Andari Karina Anom | Yahoo News – Rab, 30 Mar 2011 15.10 WIB
Hari ini, enam puluh satu tahun silam, film Darah dan Doa memulai syuting pertamanya. Garapan sutradara Usmar Ismail itu dianggap film produksi lokal yang pertama: dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia. Maka, 30 Maret pun ditahbiskan sebagai Hari Film Nasional.
Yang menarik, Pemerintah baru menetapkan tanggal itu sebagai Hari Film Nasional pada 1999– empat puluh sembilan tahun sesudah kejadian. Tepatnya melalui Surat Keputusan Presiden No 25 di masa BJ Habibie, setelah diusulkan oleh para tokoh perfilman.
Sejatinya, Konferensi Kerja Dewan Film Nasional pada 11 Oktober 1962 telah mengusulkan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional. Namun, ada penentangan dari golongan kiri yang menganggap karya-karya Usmar Ismail tidak nasionalis atau kontra revolusioner. Dengan meletusnya peristiwa 30 September, wacana Hari Film Nasional pun menguap. Baru dihidupkan kembali pada 1999.
Darah dan Doa dianggap bersejarah karena “asli” Indonesia. Sebelumnya, pada 1949, Usmar Ismail telah menyutradarai dua film Harta Karun dan Tjitra. Karena diproduksi oleh perusahaan Belanda: South Pacific Film, maka kedua judul itu tak dianggap film Indonesia. Usmar lalu hengkang dari Perusahaan film itu dan mendirikan versi lokal: Perusahaan Film Indonesia (PERFINI).
Perusahaan inilah yang kemudian melahirkan Darah dan Doa– yang semula berjudul: The Long March of Siliwangi. Film yang naskahnya ditulis Sitor Situmorang ini berkisah tentang perjalanan serombongan tentara dan pengungsi. Ada kisah cinta antara seorang prajurit dan wanita Indo-Belanda– wanita dari kalangan musuh.
Warga kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya di masa itu memang telah mengenal pemutaran film atau gambar idoep. Penduduk Batavia pertamakali melihat gambar hidup ini pada 5 Desember 1900 di Tanah Abang, Kebonjae. Yang diputar perdana adalah film dokumenter dari Eropa dan Afrika Selatan. Bioskop yang terkenal saat itu, antara lain, Rialto di Tanah Abang (kini bioskop Surya) dan Senen (kini menjadi gedung Wayang Orang Baratha) serta Orion di Glodok. Di masa itu, bioskop dipisahkan berdasarkan ras: Eropa, Tionghoa dan pribumi. Yang terakhir kerap disebut “kelas kambing”– konon karena penontonnya berisik seperti kambing.
Jauh sebelum era Usmar, sejumlah judul karya sutradara dalam negeri telah bertebaran. Disusuri sejarahnya, film cerita yang pertama dibuat di sini adalah Loetoeng Kasaroeng. Film bisu hitam putih ini dirilis oleh NV Java Film Company pada 1926. Berkisah tentang legenda tanah air dan dibintangi pemain lokal, film ini disutradarai duo asal Belanda: G. Kruger dan L. Heuveldorf. Film yang dibintangi anak-anak Bupati Bandung, Wiranata Kusuma II, ini diputar di dua bioskop di kota itu: Elite dan Oriental Bioscoop (Majestic). Selanjutnya, film kedua dibuat Kruger (kali ini di bawah perusahaan Krugers Film Bedrif) berjudul Euis Atjih.
Pada 1928, datanglah Wong Bersaudara dari Shanghai. Awalnya, Nelson Wong datang dan menyutradarai Lily Van Java. Lalu kedua adiknya Joshua dan Otniel Wong ikut ke Indonesia. Mereka bertiga mendirikan Halimoen Film.
Setahun kemudian, Indonesia memasuki era baru perfilman dengan masuknya sinema bersuara. Film bersuara pertama yang diputar di sini adalah Fox Follies dan Rainbouw Man. Karena keterbatasan teknis, hanya secuil bioskop yang mampu menyetel film jenis ini. Film bicara Indonesia pun mulai diproduksi, yaitu Bunga Roos dari Tjikembang (The Teng Chun) dan Indonesia Malaise (Halimoen Film). Kedua film ini tak terlalu meledak.
Lalu datanglah Albert Balink, wartawan Belanda yang bersama Wong Bersaudara membuat film Terang Boelan dan Pareh pada 1934. Balink kemudian mendirikan perusahaan film ANIF — gedungnya kini menjadi kantor Perusahaan Film Negara (PFN) di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta. Meski pun ia cuma menghasilkan 2 buah film, tetapi namanya menjadi terkenal di kalangan dunia film Indonesia sebelum perang. Terang Boelan yang dibintangi Miss Roekiah dan Rd Mochtar menjadi film cerita lokal pertama yang mendapat disambut hangat oleh penonton. Sesudahnya, banyak film lokal yang beredar.
Namun, lantaran proses produksinya melibatkan sutradara atau perusahaan asing, semua judul itu tak dianggap sebagai film asli Indonesia. Barulah Darah dan Doa yang mendapat label seratus persen produksi lokal.
Andari Karina Anom, wartawan Tempo. Ia kerap mengikuti dan menulis seputar isu seni dan budaya.