Link Akses Jurnal Gratis

Selesai kuliah lalu kembali ke tempat kerja membuat saya sedikit bersedih. Diantaranya adalah hilangnya nikmat kemudahan mengakses gratis jurnal-jurnal berbayar. Maklum, belum ada fasilitas itu di tempat saya bekerja saat ini. Tapi alhamdulillah, ada saja cara Alloh menunjukkan dimana bisa menemukan makalah-makalah gratisan selain di scholar.google.com.

1. http://gen.lib.rus.ec/

Tidak pakai nunggu.

2. http://www.ohiolink.edu/etd/

Link berisi hasil penelitian tesis dan disertasi dari banyak kampus di  Ohio, United States.

3. http://e-resources.pnri.go.id/

Akses jurnal berbayar secara gratis melalui perpustakaan nasional RI. Ini dibayar pakai uang rakyat, lho. Jadi sayang jika tidak dimanfaatkan secara maksimal. Daftar dulu sebelum mengakses ya. Gratis, kok :)

4. http://www.ppml.url.tw/EPPM_Journal/

Jurnal khusus engineering, project, and production management. Ada nyambungnya dengan bidang saya sistem informasi.

Jika punya link lain, silahkan ditambahkan. Sharing is caring, right? :)

Knowledges in Organization

Two kinds of knowledge in an organization are tacit and explicit knowledge. These terminologies were introduced by Nonaka (1994). Explicit knowledge (EK) is a knowledge that can be transfered formally using systematic language. For example, knowledge in a book or a document (Conklin, 1996 in Hildreth and Kimble, 2002). Otherwise, tacit knowledge (TK) is difficult to transfered and touched. TK is root for individual action and commitment in centain context. For example, team work activities, professional, craftman, etc.

Some terminologies can be founded for these kinds of knowledge. They are (in Hildreth and Kimble, 2002):

  1. Explicit knowledge: formal knowledge (Conklin, 1996), know-what (Brown and Duguid, 1998), hard knowledge (Hildreth and Kimble, 2002).
  2. Tacit knowledge: informal knowledge (Conklin, 1996), know-how (Brown and Duguid, 1998), soft knowledge (Hildreth and Kimble, 2002).

Some scholars give a strict definiton for TK and EK. For example Coklin in Hildreth and Kimble (2002). On the other hand, some scholars believe that TK and EK are in a continous spectrum. On one extreme point is TC, and on the other one is EK. TK is a subjective experience and generated “here and now”; otherwise, TK is an objective one and generated “then and there”. Most of knowledges are between these extreme points (Leonard and Sensiper, 1998 in Hilderth, 2002). Meanwhile, Nonaka (1994) state that EK and TK are completing each other, so sometimes will be found EK in TK creating process. Scholars are limited discussing of EK because this knowledge can be found physically, transmittalbe, storage and retrieve easily.

TK consists of two elements: technical and cognitif. Technical dimension consists of skill, know-how, and expertise which is come from experience and repeatedly using. Meanwhile, cognitive element (mental model) is an element where people create an analogy about something in their mind. This element comprises some one’s schemata, mental models, belief, and perception (Nonaka, 1994).

According Howells (1996), TK can be generated from inside or outside organization. From inside organization, by determining every individual’s TK in organization, and the necessary effort to support every individual learning in order that increase “know-how” competence. From outside, by consulting with an expert, networking with other organizations, recruiting employee whose has required education or certain experience, and forth.

There is another kind of knowledge in organization. It is implicit knowledge (IK). Some scholars states that this knowledge is between EK and TK. According to Wilson (2002), IK can be expressed. He also stated that TK which defined by Nonaka, actually is the IK. IK is a knowledge which its articulated process is unperfect. IK is a TK that can be converted to EK (Newman, 2000). The process of making a cup of coffee is a good example to explain this knowledge. There are some sub-process in it: choicing the coffee seeds, how to use the coffe mechine, coffee type, number of water, and forth. There is addition explaination for all of its. For example, the expert will explain how to choose the best coffee seeds. This explaination is IK.

As conclusion, there are three kinds of knowledge in organization. They are tacit, implicit and explicit knowledge. But, I prefer to divide it into tacit and tacit knowledge because knowledge is a spectrum where there always will be implicit knowledge in both of its.

References:

Will be added

Design Research in Information Systems Research


Reserch-design framework was introduced by Hevner and colleagues. This kind of research method combines two research paradigms: behavioral science and design science. Behavioral science try to develop and verify a theory that explain and predict the business needs, for example. Meanwhile, design science produce usefull thing to solve a problem. Both of the paradigmns are using to create the information system reseach framework.

As can be seen in Figure 1, business needs are defined in an environment. Information system research must relevant to an environment; therefore, the result can be applied and is the best solution to achieve business goal. Environment consists of human, technology and organization. Human define business needs using his role, capability and character. Business needs are evaluated in the context of strategy, structure, organization culture, and business process, with technology support.

The foundation and methodology in knowledge base will be analysed to search the best solution for the defined problem. Foundation consists of theory, framework, instrument, contruct, model, method and instantiation. Meanwhile, methodology provide a guidance in verify and instiation phase. Rigor can be found by applying the foundation and methodology.

Business needs solutions can be found by knowledge supporting that can be used to develop or generate theory and artefact. Artefact is a result which can be a constructrution, model, methode and instatiation from knowledge base. The theory or artifact verified or evaluated by analysis, case study, experiment, field study, or simulation. The contributed result for environment can be an artefact that can be used, and add something to knowledge base for the next research or application.

Figure 1. Hevner’s design research (pg.80)

Reference:

Hevner, A. R., Martch S.T., Park, J. dan Ram, S., 2004, Design Science In Information System Research, MIS Quarterly, 28(1), 75-105.

Kreatifitas

murrieta.k12.ca.us

Konon, Newton kejatuhan buah apel ketika tengah bersantai di bawah pohon apel. Kemudian, “AHA!”, keluarlah ide tentang gravitasi. Menunggu bintang jatuh, hasil semedi atau wangsit untuk menghasilkan ide-ide segar tidak berlaku lagi saat ini, dimana setiap orang dituntut untuk bertindak cepat dan tepat. Agar memenangkan perasingan, perusahaan harus senantiasa melakukan inovasi. Untuk lulus segera, mahasiswa harus melakukan penelitian (skripsi, tesis atau disertasi) yang berbeda dari penelitian-penelitian yang telah ada.

Think out of box. Berpikir di luar kotak alias di luar kebiasaan. Ini adalah jargon yang sering kita dengar jika ingin menghasilkan ide atau menjadi pribadi kreatif. Bagi yang memang baru belajar untuk menjadi pribadi kreatif, pasti bingung. Box-nya yang mana (hihihi), cara berpikirnya seperti apa, sebagainya.

Sebelum lebih jauh, yuk kita pahami dulu definisi dari kreatif itu sendiri. Ummm, definisi kreatif ada banyak, bergantung dari sudut pandang yang digunakan. Definisi dari sisi psikologi akan berbeda dengan definisi yang diberikan orang-orang ekonomi. Tapi saya menyukai definisi yang ini:

Creativity typically defined as the generation or production of ideas that are both novel and useful.”

“Kreatifitas biasa didefinisikan sebagai pembangkitan atau  pembentukan ide yang bersifat baru dan bermanfaat.” (George, 2007 dalam Loewenstein, 2010).

 Nah, dari definisi itu bisa kita ketahui:

  1. Hasil dari kreatifitas itu berupa ide. Artinya, prosesnya lebih pada proses dalam otak (kognitif). Artinya lagi, harus ada tindakan nyata untuk mewujudkannya. Kalau orang-orang industri menyebutnya dengan inovasi.
  2. Syarat utama kreatif adalah: BARU dan MANFAAT. Baru artinya berbeda dari yang telah ada. Bisa baru dalam hal bahan, proses atau hasil akhirnya. Manfaat artinya memberikan nilai guna bagi yang menjalankan proses kreatif.

Contoh kreatifitas misalnya mobil dengan memanfaatkan tenaga surya. Karena mobil pada umumnya menggunakan bensin atau solar.

Penelitian mengenai kreatifitas ada banyak. Namun proses kreatif itu sendiri seperti berada dalam kotak hitam (black box) di tengah malam yang mendung, plus gerhana bulan :D. Setelah berburu referensi, alhamdulillah, akhirnya menemukan yang bisa menjelaskan bagaimana proses kreatif di otak itu terjadi. Dengan mengetahui ini, menjadikan proses kreatif bisa kita kontrol, sehingga ketika kita membutuhkan ide-ide segar, proses kreatif dapat kita jalankan pada saat itu juga.

 

Gambar 1. Proses Kreatif  (Loewenstein dkk, 2010)

Loewenstein dkk (2010) menyatakan bahwa kreatifitas dihasilkan dari mengubah sudut pandang terhadap sesuatu. Proses kreatif yang Beliau usulkan seperti pada gambar 1. Tahapan dalam melakukan proses kreatif:

  1. Conception. Kesadaran manusia terhadap konsep yang relevan dan dapat digunakan di luar persoalan yang dihadapi,
  2. Elaboration. Selanjutnya konsep tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan representasi permasalahan yang baru.
  3. Accommodation. Proses menyesuaikan dan menggabungkan interpretasi ulang dari masalah lokal ke dalam representasi masalah yang lebih besar sehingga dapat mengubah representasi masalah ke dalam bentuk baru.

Contoh kasus:

Ingin berjualan bakso yang lain daripada yang lain.

Conception: alternatif pengganti daging sapi dan proses pengolahannya menjadi bakso yang enak, seenak bakso sapi. Hasilnya pada tahap ini pastinya berupa daftar alternatif.

Elaboration: hasil dari conception diramu sedemikian rupa hingga menghasilkan bakso baru. Misalnya bakso tempe.

Accommodation: masalah pembuatan bakso merupakan bagian dari usaha bakso. Sehingga perlu dikaji juga masalah lain yang terkait untuk berjualan bakso yang beda dengan yang telah ada. Misalnya mengenai cara pemasarannya.

Hasil akhir misalnya lahirlah bakso tempe, bakso isi (menggunakan konsep roti isi). Bakso panggang (menggunakan konsep sate), dan sebagainya.

Konsep penting lahirnya kreatifitas adalah interaksi (Woodman dkk, 1993; Fischer dkk, 2005).  Baik interaksi secara langsung maupun melalui teknologi seperti grup, mailing list, dan sebagainya.

Naaah, jauh hari sebelum para pakar menemukan teori kreatifitas, Islam melalui Rasululloh Muhammad SAW telah mengajarkan umat Islam untuk kreatif. Salah satunya adalah tentang anjuran untuk mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang sholat Idul Fitri atau anjuran untuk memperbanyak silaturahmi. Karena saat melintasi jalan yang berbeda, saat itu lah kita sedang berproses untuk think out of box. Dan ketika kita bersilaturrahmi, saat itulah terjadi interaksi untuk menghasilkan ide-ide kreatif.

Abu Raafi’ berkata:

كَانَ يَخْرُجُ إِلىَ الْعِيْدَيْنِ مَاشِيًا وَ يُصَليِّ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَ لاَ إِقَامَةٍ ثُمَّ يَرْجِعُ مَاشِياً فِي طَرِيْقٍ آخَرَ

“Beliau keluar menuju ‘Iedain (tempat sholat ied-red) dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melewati jalan yang lain. “ (Ibnu Majah, Shahihul Jaami’: 4933)

Referensi:

Fishcer, G., Giaccardi, E., Eden, H., Sugimoto, M., dan Ye, Y., 2005, “Beyond binary choices: integrating individual and social creativity”, International Journal of Human-Computer Studies, 63.

Loewenstein, J., & Cronin, M. A. (2010, November). The creativity cycle and the possibility of producing creative ideas efficiently. INFORMS Annual Meeting, Austin, Texas.

Woodman, R. W., Sawyer, J. E., dan Griffin, R. W., 1993, “Toward a Theory of Organizational Creativity”, The Academy of Management Review, 18 (2), 293-321.

#Saya sendiri masih berusaha menjadi pribadi kreatif :)

KNSI-Behind The Scene

Hari pertama:

Pada saat menunggu di bandara, tiba-tiba salah satu teman saya dipanggil melalui pengeras suara untuk mengambil barangnya yang tertinggal di loket airasia. Ketika sampai di loket, petugas menanyakan apakah tas kecil teman saya terjatuh. Teman saya mengatakan tidak.

“Dompet yang berisi obat-obatan,” kata petugas.

What?! Obat-obatan?! Ditambah lagi, teman saya mengaku tidak ada yang terjatuh. Yang terpikir oleh saya saat itu adalah ada orang jahat yang mau mengkambing-hitamkan teman saya dengan memasukkan obat terlarang ke barang bawaan teman saya itu.

“Aaah, iya. Benar, Pak!” jawab  teman saya.

Ternyata tas kecil itu berisi beberapa persiapan obat yang mungkin diperlukan ketika di Medan. Karena teman saya punya penyakit, seperti alergi dingin.

Haghag. Kebanyakan nonton film, sih.

Hari kedua:

Untuk KNSI ini saya mengirimkan 2 makalah. Makalah pertama adalah tugas kelompok mata kuliah Perancangan Sistem Interaksi. Makalah ini adalah tugas yang saya dan teman-teman saya kerjakan kurang lebih 4 bulan. Jadi, ketika di kelas kami mendapatkan teori baru, maka kami lakukan eksplorasi pada studi kasus yang kami angkat dan menuliskannya. Ketika mendekati masa berakhir kuliah, kami presentasikan. Ini seperti peer-review alias review yang dilakukan oleh teman sejawat. Saat itu makalah kami sudah mencapai 50 halaman, itu pun dinilai Dosen masih banyak hal yang perlu dieksplorasi. Oya, 50 halaman tersebut harus disulap menjadi 6 halaman untuk dimasukkan ke KNSI.

Makalah kedua adalah gabungan dari 2 mata kuliah. Saat itu adalah masa-masa ujian akhir semester (UAS).  Saya harus membuat 4 makalah dalam waktu 2 minggu. Tiga makalah untuk UAS mata kuliah dan 1 untuk tugas suatu mata kuliah. Maka dipakailah pepatah ‘sekali dayung, 2-3 pulau terlampaui’. Nah, makalah kedua merupakan gabungan dari UAS mata kuliah Tata Kelola Sistem Informasi dan tugas mata kuliah Perancangan Sistem Interaksi. Dan mengerjakannya sekitar 2 hari.

Hasil review dari reviewer KNSI adalah makalah pertama lolos tanpa perbaikan sedangkan makalah kedua dengan perbaikan major. Ini masih lumayan. Karena ketika dinilai oleh Dosen mata kuliah metode penelitian, statusnya lebih parah. Makalah pertama dengan perbaikan minor, sedangkan makalah kedua tidak lolos. LOL. Namanya juga Dosen metode penelitian, sekilas saja Beliau bisa menilai makalah saya yang SKS itu. Karena kami didik untuk banyak membaca referensi sebelum menuliskan atau menyimpulkan sesuatu. Saat itu Beliau mengatakan, “ini belum matang. Jika dipresentasikan sekarang, idenya bisa dicuri orang lain. Belajar untuk menahan diri, ya.” Saat itu saya pikir ini hanyalah cara halus Beliau untuk menyatakan makalah saya tidak layak. Saya terima masukan Beliau. Sadar diri githu :P. Akhirnya, makalah yang akan dipresentasikan hanya makalah pertama dan pastinya dengan perbaikan. Sebelum revisi dikirimkan kepada panitia, kami bolak-balik mengkonsultasikan dengan Beliau.

Ketika mendapatkan prosiding KNSI, saya kaget karena kedua makalah yang saya kirimkan dicetak, padahal saya hanya membayar untuk makalah pertama. Parahnya lagi, yang dicetak merupakan versi awal. Fiuh! Malunya bukan hanya makalah itu dibaca seluruh Indonesia, tapi juga Malaysia karena keynote speaker-nya dari Malaysia (halah, lebay!).

Konferensi diakhiri dengan pemilihan makalah terbaik. Pada saat itu, Dosen saya mengatakan beberapa dari kami menjadi nominator. Saya cuma bilang, “tidak mungkin.” Karena melihat makalah yang diterima keren-keren. Pada saat gala dinner, Dosen tersebut baru menjelaskan. Dan ternyata, makalah kedua saya masuk salah satunya karena reviewer hanya membaca dari prosiding yang mereka terima dan menganggap semuanya sudah lolos review. Katanya ada ‘sesuatu’ dari makalah saya ini dan akan memberikan ‘sesuatu’ jika didalami lebih lanjut. Apa coba? Intinya, jika dilakukan eksplorasi dan penelitian lebih dalam, penelitian saya bisa memberikan kontribusi pada bidang terkait. Naaah, karena aslinya makalah tersebut tidak saya daftarkan dan tidak saya presentasikan, maka gugur.  Menjadi nominator saja cukup bagi saya.  Ini memberikan semangat bagi saya untuk menulis lagi.

Ini bukan menyombongkan diri, Sodara-sodara (tapi pamer. Jitak!!). Ada pelajaran yang saya dapat dari kejadian ini. Pertama, jangan pernah membuat makalah hanya dalam 1 malam. Kedua, yang membaca makalah kita adalah orang-orang dengan beragam perspektif. Jadi, akan ada yang menilai positif dan negatif. Dosen saya melihat dari metode penelitian menilainya kurang baik, namun reviewer dari panitia adalah orang yang berkecimpung di bidang topik penelitian saya, menilai makalah saya baik. So, yang penting lakukan yang terbaik. Dan jadikan penilaian negatif sebagai bekal perbaikan untuk masa yang akan datang. Oya, yang menjadi makalah terbaik adalah makalah dosen pembimbing tesis saya. Selamat ya, Bu :)

Hari terakhir:

Di taksi dari bandara Husen Sastranegara menuju kos.

“Sebenarnya pengen ngitung pengeluaran, Teh. Tapi gimana ya?” kata saya kepada teman.

“Jangan. Sakit hati nanti. Jebol anggaran,” jawabnya.

Ah, betul, betul, betul (ipin upin mode: on). Bayar pesawat, penginapan, makalah, bagasi. Belum lagi oleh-olehnya. Alhamdulillah, saya dapat subsidi :D

 

Ini teman sekamar saya, Miss G. Kita lagi gala dinner

 

Tulisan lainnya:

pengalaman hari pertama

pengalaman hari kedua

pengalaman hari ketiga

pengalaman hari terakhir

 

Buku: Information Rules

amazon.com

Menarik. Itu kesimpulan saya mengenai buku Information Rules. Hingga saat ini, buku tersebut belum dicetak ulang sejak diterbitkan pada tahun 1999. Jika ingin membeli harus ke toko buku online seperti amazon.com. Harganya $24.08. Ini yang paling murah. Ada yang menjual hingga harga $30.40. Saya sudah coba cari ebook gratisannya, tapi belum menemukan. Nah, Anda bisa baca gratis di googlebook (ini link-nya), tapi ada beberapa halaman yang tidak ditampilkan. Ya namanya juga gratisan :)

Buku ini berisi strategi memasarkan barang-barang teknologi informasi. Mulai dari penetapan harga, manajemen hak cipta, hingga kebijakan informasi.  Saat membaca buku ini, seringkali saya, “aaah, ternyata begitu yaaa.” Misalnya pada bab Managing lock-in. Bab ini menjelaskan strategi bagi penjual agar pelanggan loyal pada produk-produk kita. Juga jika kita sebagai pembeli/pengguna barang teknologi, ada tip-tip agar kita tidak terjebak pada suatu merek tertentu. Karena ketika kita telah terikat (lock-in) pada merek tertentu, akan menimbulkan ketergantungan dan berefek pada lainnya. Dosen saya terbisa menggunakan windows, lalu Beliau menunjukkan laptop mac-nya yang baru. “Saya sudah miliki sekitar 2 minggu, tapi belum saya gunakan. Karena saya butuh waktu untuk belajar menggunakannya.” alias belum familiar dengan icon dan lain-lainnya yang digunakan mac.

Selain bahasanya yang mudah dimengerti, penulis memberikan contoh-contoh yang menarik. Penasaran, langsung saja baca.

Shapiro, C dan Varian, H.R (1999) : Information rules: a Strategic ti The Network Economy, Havard Business School Press.

 

KNSI 2011- Bye-Bye Medan

Sarapan terakhir di hotel dengan bubur ayam, roti, dan mie telor, susu kedelai dan juice jeruk. Porsi jumbo, Buuuk. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Sepanjang di pesawat tidur. Nyenyak. Ketika mau turun baru sadar ternyata di depan saya duduk dosen-dosen saya. Barisan persis di depan saya, Pak Endro. Di depannya lagi, Bu Masayu. Di depan Bu Masayu, ada Pak Husni.

Barang-barang bawaan kami jadi banyak. Ketika berangkat tidak ada bagasi. Pulang ini, bagasi kita jadi 42 Kg. Ya iyalah, secara prosiding saja beratnya 2, 25 Kg/buah. Nah, kali 8 buah. Belum lagi oleh-oleh segambreng. Karena kita naik airasia, dapat free luggage hanya 7 Kg. Selebihnya kurang lebih Rp 150.000/15 Kg. Sebenarnya lebih murah jika kita booking luggage sebelumnya. Hanya Rp 60.000/15 Kg.

Hari ini terasa lelah luar biasa secara fisik. Kurang tidur plus bawaan yang beranak-pinak. Al hasil, selesai makan, sholat dan bersih-bersih langsung tidur.

Menyenangkan. Itu yang saya rasakan. Ini semua berkat bantuan orang tua teman sekamar saya, Miss G, yang sudah memilihkan hotel keren di pusat kota, menyediakan kendaraan plus sopirnya untuk antar jemput kemanapun kami mau dan mentraktir kami makan dan membelikan oleh-oleh untuk kami bawa pulang. Nuhun pisan, yak. Selain itu, saya merasa panitia benar-benar memuliakan para tamunya. Walau ada kekurangan, tapi overall semua baik bagi saya. Terima kasih.

Oya, semua panitia perempuan STMIK Potensi Utama berjilbab. Gedung tempat kami konferensi ada 4 lantai. Mushola ada di lantai 2 dan 3. Musholanya berupa ruangan dengan sekat tinggi dari kayu. Di pintu masuk ada tulisan “ikhwan” dan  “akhwat”. Mushola dilengkapi AC dan lampu hias yang indah (lupa motret, euy). Nyaman. Betah ada di dalam mushola.

Alhamdulillahi robbil’alamin…

*mulai mencari peluang jalan-jalan gratis lainnya. haghag*

 

Peserta dan Panitia KNSI 2011. See you next time :)

 

Tulisan lainnya:

pengalaman hari pertama

pengalaman hari kedua

pengalaman hari ketiga

behind the scene

 

KNSI 2011- Hari Ketiga di Medan

Hari ketiga acaranya adalah wisata ke Danau Toba. Yay! Berangkat dari STMIK Potensi Utama sekitar pukul 08.05 WIB. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 4 jam. Menuju Danau Toba, rombongan saya melewati tol Tanjung Mulia, tol Tanjung Morawa, Deli Serdang, Lubuk Pakan, Buluh Perbaungan, Sedang Bergadai,  Tebing Tinggi, Siantar, dan Simalugun. Di daerah Buluh Perbaungan, kami jumpai kebun sawit dan karet walau tidak sebanyak jika kita melewati jalan Lintas Utara Sumatera, dari Sumatera Selatan menuju Jambi. Mendekati daerah Danau Toba, akan kita jumpai banyak gereja mewah dan hanya 1 buah masjid.

Sesampainya di sana, acara dimulai dengan makan siang dan lucky draw. Alhamdulillah, kali ini saya dapat berupa flash disk 8 GB. Temen saya yang semalam dapat flash disk, kali ini dapat lagi. Dosen saya yang semalem dapat, hari ini pun dapat lagi berupa handphone. Wah, ini mungkin berkah karena membawa istri, Pak. He…

Kami menyeberang ke Pulau Samosir dengan kapal kecil setelah melakukan sholat dzuhur. Di atas kapal kami dihibur dengan anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu nusantara. Yang pasti lagu Butet merupakan lagu andalannya.

Saya sempat berbincang-bincang dengan 3 orang adik pengamen itu. Mereka adalah anak-anak kelas 5 dan 6 SD. Saya bertanya pada salah satu dari mereka tentang cita-citanya. Dan cita-citanya adalah Tukang Bolen. Saya tidak mengerti apa itu. Lalu yang lain menjelaskan kepada saya bahwa itu adalah Tukang pemasang lampu. Oooh, orang PLN kali ya. Saya takjub. Jarang kan yang punya cita-cita seperti ini. Umumnya pada usia itu kita bercita-cita jadi presiden atau dokter.

Yang memakai topi yang ingin menjadi tukang Bolen

Dari atas kapal, kami melihat “batu gantung”. Itu batu yang menggantung, terbentuk secara alami mirip dengan batuan di langit-langit gua. Lalu kami singgah di tempat wisata Tomok. Di sana kami berkunjung ke makam raja Tomok dan Boneka Singgale-gale.

Dulu, raja Marha memiliki anak laki-laki bernama Simanggale yang pintar menari. ketika terjadi perang, anaknya hilang tanpa jejak. Hal ini menyebabkan raja gila. Suatu hari, raja melihat patung yang mirip dengan anaknya yang disebut Sigale-gale. Agar patung itu bisa bergerak, dipanggilah dukun yang bisa memindahkan arwah anaknya ke dalam patung (ssst, ini sih tidak mungkin dalam agama Islam. Yang ada juga jin yang ngaku-ngaku sebagai arwah seorang manusia. Wong dukun itu mainannya dengan jin, kok ya). Namun patung itu hanya bisa menari selama 7 hari 7 malam. Setelah itu berhenti. Untuk saat ini, boneka tersebut digerakkan dengan menggunakan tali. Di sana ditampilkan beberapa gerakan tarian daerah Batak. Tidak banyak gerak, hanya jari-jari tangan saja yang digerak-gerakkan seperti yang biasa kita lihat di televisi. Tidak seperti jaipong atau tarian melayu lainnya yang sangat melenggak-lenggok, apalagi street dance-nya 2 PM yang sampai jumpalitan. Haghag.

 

Boneka singgale-gale

Setelah itu kami beranjak ke makam raja tomok. Di sana ada beberapa makam. Makam raja pertama yang merupakan penganut permalin. Raja kedua beragama Islam berasal dari Aceh dan raja terakhir penganut katolik. Di sana ada beberapa makam prajurit. Ada juga rumah kecil tempat menyimpan tulang belulang orang yang meninggal. Di bagian belakang rumah kecil tersebut ada tempat memasukkan mayat. Jika pihak keluarga -biasanya anaknya- telah punya cukup dana, maka tulang-belulang tersebut diangkat dari tanah dan dimasukkan ke dalam rumah. Upacara tersebut merupakan upacara terbesar bagi orang Batak. Semakin mewah dan meriah acaranya, maka dianggap semakin menghormati orang tuanya. Jadi ingat upacara Ngaben di Bali. Oya, apapun kegiatan atau upacara di sana, disebut dengan ‘pesta’. Walaupun seperti upacara pengangkatan tulang tadi, tetap disebut pesta.

 

Rumah penyimpanan tulang

 

Makam Raja Tomok ke-II

Setelah itu acara bebas. Kami bebas jalan-jalan dan berbelanja. Lalu pada pukul 17.00 berkumpul kembali di dekat kapal. Harus benar-benar pintar menawar, euy. Misalnya saja gantungan kunci berbentuk rumah adat terbuat dari kayu ditawarkan Rp 10.000. Akhirnya kami bisa mendapat dengan harga Rp 3.000/buah. Seorang peserta komentar, “Kalau beli gantungan kunci menara Eifel di dekat menaranya, 1 euro (+- Rp 12.000-red) kita dapat 10 buah. Padahal itu terbuat dari tembaga.” Yeah, that’s the way it is. Ada juga kain songket, kain tenun dan sebagainya. Untuk warna dan motif kain mempunyai makna tersendiri. Misalnya warna gelap mencerminkan duka cita.

Tugu dekat kapal penyeberangan. Selesai berbelanja.

Kami kembali ke Medan sekitar pukul 19.30 WIB setelah makan malam dan sholat maghrib. Ternyata teman baik saya menghubungi saya. Akhirnya saya telepon balik karena saya tidak ngeh jika dia menelpon. Ternyata dia membelikan saya oleh-oleh bolu meranti dan bika ambon. U… yeaaah. Thanks a lot, my best friend.

Sopir terbaik kami sudah stand by di STMIK untuk mengantar kami kembali ke hotel. Beliau memberitahu bahwa kami diberi oleh orang tua teman saya oleh-oleh berupa 2 kotak bolu meranti dan 1 kotak bika ambon. *rock*. Sampai hotel langsung packing karena kami pulang dengan penerbangan pagi. Saya hanya tidur 30 menit karena khawatir kesiangan. Secara, teman sekamar saya pulang duluan pagi hari tadi.

Tulisan lainnya:

pengalaman hari pertama

pengalaman hari kedua

pengalaman hari terakhir

behind the scene

 

KNSI 2011- Hari Kedua di Medan

Waktu fajar di Medan lebih lama sekitar 30 menit dari Bandung. Alhasil sholat subuh nyaris pukul 05.30 WIB dan masih terlihat gelap.

Sarapan pagi di hotel. Menunya mulai dari nasi goreng, bubur ayam, aneka roti, sup, dan salad. Minumnya aneka juice, susu putih dan susu kedelai. Lalu berangkat ke lokasi KNSI di STMIK Potensi Utama. Sekitar 30 menit dari hotel.

Acara dimulai sesuai jadwal namun jadi mundur karena ada beberapa kata pengantar yang terlalu panjang. Lalu kami dihibur dengan 2 tarian melayu Sumatera Utara. Lupa namanya. Dilanjutkan keynote speaker dari Universitas Kebangsaan Malaysia memaparkan makalahnya. Presentasi paralel dibagi menjadi beberapa kelas dan sesi. Saya mendapat giliran sesi kedua pukul 14.00 WIB.

Karena banyak yang presentasi, alhasil masing-masing pemakalah hanya diberi waktu 13 menit. Pada saat saya presentasi tidak ada yang bertanya. Hanya ada 2 kemungkinan. Pertama, cara menyampaikan saya yang kurang baik dan kedua, tema saya yang tidak terlalu familiar dengan audiens. Tapi setelah mengikuti hingga masuk waktu coffee break, kesimpulan saya berakhir pada kemungkinan kedua. Mayoritas penelitian mereka bersifat penerapan, misalnya penggunaan metode tertentu untuk membangun sistem informasi. Sementara makalah saya yang berjudul “Perancangan Sistem Interaksi Sistem Maintenance” lebih ke arah ‘sosial’ dan konsep (meminjam istilah teman).

 

Kru Sistem Informasi ITB

 

Kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan menuju ke Garuda hotel untuk gala dinner. Ternyata pada saat itu ada lucky draw. Nah, saya tidak membawa bukti saya padahal nomor saya disebut. Karena tidak yakin, saya diam saja. Tapi teman sekamar saya ingat sekali, walau tidak membawa bukti, panitia berbaik hati tetap memberikan hadiahnya. Dan hadiah itu berupa harddisk eksternal 320 GB. Congrats, sizta :). Oya, dosen kami, Pak Endro beserta istrinya juga dapat lucky draw.

Salah seorang teman saya menyumbangkan lagu dalam acara tersebut. Lumayan membuat suasana segar. Sebenarnya menunggu salah satu dosen kami menyanyi, karena pada KNSI 2010 Beliau bersenandung buat peserta dan panitia KNSI. Tapi kami tunggu sampai akhir acara, Beliau tidak juga menyanyi.

Hari kedua hanya dua kegiatan tersebut yang saya lakukan. Tapi rasa lelah melebihi hari pertama. Mungkin penyebab utamanya beban psikologis untuk presentasi.

Tulisan lainnya:

pengalaman hari pertama

pengalaman hari ketiga

pengalaman hari terakhir

behind the scene

 

KNSI 2011- Hari Pertama di Medan

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata Medan?! Mungkin ketika medengar kata itu, Anda akan ingat Danau Toba yang indah, bolu gulung Meranti yang lembut, atau suku Batak lengkap dengan “horas”-nya.

Alhamdulillah, saya punya kesempatan untuk berkunjung ke Medan.  Ini hal yang luar biasa bagi saya. Walau pun saya berasal dari Sumatera, Jambi,  tapi  entah kapan saya bisa ke Medan. Kesempatan itu datang ketika saya mengikuti Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) 2011 yang diselenggarakan di kota Medan, pada 25-26 Februari 2011.

Saya bersama beberapa teman ITB berangkat sehari sebelum pelaksanaan KNSI. Alasan ilmiahnya, agar tidak tergesa-gesa ke lokasi KNSI.  Karena jika berangkat pagi pada hari H dari Bandung, khawatir akan terjebak macet dan sebagainya. Tapi alasan utamanya adalah agar bisa jalan-jalan terlebih dahulu. Panitia hanya memfasilitas jalan-jalan ke Danau Toba untuk hari kedua. Kan rugi tuh, sudah jauh-jauh melintasi selat sunda, tapi cuma ke Danau Toba. Akhirnya kami sepakat untuk berangkat sehari sebelumnya.

Kami tidak menginap di penginapan yang disediakan panitia. Ada teman saya yang orang tuanya sedang ada proyek di Medan mencarikan kami hotel yang keren tapi dengan harga murah plus mobil untuk mengantar jemput ke mana saja kami mau. Kami menginap di Swiss belhotel. Harga normal perkamar sekitar Rp 660.000, tapi karena yang mengurus pemesanan atas nama perusahaan ortu teman saya tersebut, kami mendapat diskon hingga harganya menjadi Rp 450.000/malam.

Berangkat menuju bandara Husein Sastranegara jam 04.30 WIB karena penerbangannya jam 06.00. Dibela-belain karena dapat tiket promo, Sodara-sodara. Sampai di Bandara Polonia Medan jam 08.15 WIB. Sesampainya di sana, mobil jemputan kami sudah menunggu. Dari sana kami diantar oleh Pak Gunawan (utusan ortu teman) sarapan pagi di rumah makan Sinar Pagi, di jalan sei deli 2, D/1 Medan, Telp 061-4530728. Ada kejadian unik. Begitu duduk di warung makan ini, pegawainya langsung menodong kita dengan pertanyaan mau pesan apa. Awalnya saya pikir akan ada menu yang akan disodorkan kepada kami, tapi ternyata menu disampaikan secara lisan. Teman saya yang asli Sunda (plus dengan gelar ‘makhluk halus’), kagetnya minta ampun. Mereka menawarkannya seperti orang memaksa atau marah :D

Menu yang ditawarkan antara lain sop daging, sop ayam, soto paru, dan sebagainya. Ada yang berkuah bening atau santan. Di atas meja disediakan pergedel kentang, peyek udang, nasi tambahan, pisang, krupuk. Harga terpisah pastinya. Untuk minuman, seperti kebanyakan tempat makan. Aneka juice dan minuman botol. Saya memesan sop daging yang rasanya muantep banget, Gan. Plus juice jeruk. Baik untuk kesehatan nih juice. Saya harus fit selama di Medan. Harganya tidak tahu, Gan karena kami ditraktir Pak Gunawan. U… yeaaah.

 

Sarapan Sop

 

Selesai makan, kami mengantar Pak Gunawan ke kantornya dan selanjutnya kami ditemani Pak Lilik, Sang sopir yang sangat baik. Kami lalu meluncur ke tempat yang wajib dikunjungi wisatawan, Masjid Raya Al-Mashun dan Istana Maimun. Di Masjid Raya, yang sangat menarik adalah desain interior dari langit-langit masjid yang sangat artistik. Indaaah sekali. Selain itu, di sana kita bisa mendapati Al Qur’an besar tulisan tangan asal Pakistan yang usianya sudah mencapai 35 tahun. Uniknya lagi, terjemahannya dalam bahasa arab juga ditulis di tepi halaman membentuk bingkai. Di bagian samping masjid ada kuburan keluarga Sultan. Jika ada keluarga sultan yang meninggal, akan dibangun tenda yang melindungi dari hujan dan ‘rumah-rumahan’ dari kayu di atas makamnya. Makam tersebut akan dibacakan Al Qur’an hingga khattam (tamat) hingga 7 kali. Setelah itu tenda dibuka. Sedangkan ‘rumah-rumahan’ dibiarkan hingga lapuk atau hancur dengan sendirinya. Saya kurang mendengarkan apa filosofi di balik itu. Secara Islam sendiri tidak ada kewajiban untuk membangun tenda dan rumah-rumahan atau membacakan sampai khattam 7x. Tapi membacakan Al Qur’an sendiri itu adalah suatu kebaikan.

 

Bangunan utama Masjid Raya

Yang berkubah kecil adalah tempat wudhu khusus wanita

 

 

Mimbar khutbah

 

Selesai foto-foto, kami meluncur ke Istana Maimun. Saya dan teman-teman hanya masuk ke bangunan utamanya. Di dalam bangunan utama ini terdapat singgasana dan foto-foto keluarga Kesultanan sejak awal hingga kini, Sultan yang baru berusia 14 tahun. Sayangnya di dalam bangunan ini ada stan yang menjual cinderamata dan tempat berfoto dengan kostum yang disewakan. Menurut saya ini merusak kesakralan istana. Sangat beda rasanya dengan Kraton Jogja. Karena di luar mulai hujan, pedagang ramai berteduh di pintu masuk bangunan utama. Saya beli bros Rp 15.000/buah. Harga standar sih dengan yang ada di Bandung. Hanya saja desain atau bentuknya yang beda.

Istana Maimun

 

Setelah itu kami kembali ke bandara untuk menjemput 2 orang teman yang berangkat belakangan dari Surabaya dan Jakarta.  Kami lalu diajak makan siang oleh Pak Gunawan. Kali ini ke tempat yang terkenal dengan bawal steam-nya. Di sini uniknya, makanan pendamping akan ditawarkan oleh seorang pelayan yang membawa nampan berisi penuh makanan. Ada lalapan plus sambal terasi, sambal teri medan dan kacang tanah, udang goreng dan lain-lain. Menu utama kami pastinya bawal steam yang luaarrr biasa lezatnya. Minuman yang saya pesan adalah juice terong belanda dicampur dengan markisa. Rasanya asam.

 

Bawal steam. Yummy

 

Rencana awal kami akan ke Brastagi, tapi karena hujan, kami memutuskan untuk beristirahat di hotel selesai makan siang. Sampai hotel, bukannya langsung istirahat, tapi menyempatkan diri mengunjungi mall yang berdampingan dengan hotel sekalian beli air mineral. Hotel hanya menyediakan ukuran 800ml. Mana cukup untuk saya yang doyan minum. Selesai sholat, teman sekamar saya memilih untuk tidur, sedangkan saya harus mengirimkan soal UTS ke tempat kerja. Lalu rebahan sembari nonton tivi.

Malam harinya kami makan mie Aceh di luar. Mie aceh rebus pilihan saya walaupun aslinya ingin nyicip yang goreng :P. Harganya murah untuk menu yang berkisar Rp 8.000-15.000. Ternyata dosen kami, Pak Husni mengajak bertemu di Merdeka Walk. Akhirnya ke sana juga karena sebelumnya rencana makan di sana kami batalkan karena gerimis. Ya sudah, foto-foto deh. Yang membuat saya tersenyum adalah Bapak menginap di hotel Aston yang berada di seberang jalan Merdeka Walk. Hahai, mudah-mudahn bisa menginap di sana suatu hari nanti. Gedung Hotel Aston sendiri sangat artistik. Sayang siangnya tidak sempat memotret. Alhasil hanya tampilan malam yang diabadikan.

 

Merdeka Walk

Kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Tidak berapa lama, teman baik saya semasa SMA sampai di hotel untuk bersilaturahmi. 11 tahun tidak berjumpa, ada banyak yang sudah terjadi dan berubah. Namun ada sifat yang tetap ada pada diri teman saya yaitu rendah hari dan seorang pendengar yang baik, secara selama 2 jam bertemu, saya yang banyak bicara :D. Setelah dia pulang, saya beristirahat. Niat untuk belajar terkalahkan oleh rasa kantuk yang luar biasa.

Tulisan lainnya:

pengalaman hari kedua

pengalaman hari ketiga

pengalaman hari terakhir

behind the scene