Ujian Saring Masuk Universitas

Hari ini mengantar adik mengikuti USM ITB yang sebelumnya membeli formulir pendaftaran seharga Rp 700 ribuan. Adik mengikuti beberapa tes masuk universitas. USM Universitas Andalas, SIMAK UI, USM ITB, dan terakhir nanti SNMPTN. Alhamdulillah, adik semangat mengikuti semua tes itu dan tidak merasa terbebani.

Awalnya saya berpikir kenapa sih repot-repot ikut ujian sana-sini. ikuti saja SNMPTN. ujian masuk yang menurut saya masih “fair”. berapa uang yang harus dikeluarkan hanya untuk mengikuti sebuah USM. Untuk di ITB, setidaknya tiga kali bolak balik Jambi-Bandung; menyerahkan berkas pendaftaran, mengambil nomor ujian yang tidak bisa diwakilkan, dan saat ujiannya sendiri. belum lagi , “uang pangkal” (dulu swasta mengistilahkan dengan  uang gedung) yang harus dibayarkan minimal Rp 25 juta jika diterima. Di kampus lain, pendaftaran dan ujian bisa secara online sehingga biaya yang dikeluarkan lebih ringan.

“Kalau ikut SNMPTN, kursinya tinggal sedikit, Mba. bisa-bisa hanya 10 kursi yang harus diperebutkan seluruh Indonesia. karena sudah terisi melalui saringan masuk yang dilakukan universitas sebelumnya.”

Para pengantar peserta ujian dilarang masuk gedung Sasana Budaya Ganesha (sabuga). Setelah Adik masuk, saya sempat berbincang dengan beberapa orang tua yang mengantar. seorang Ibu dari Manado, dan seorang Ibu dari Jakarta.

Ibu dari Manado (IM): “anak saya mengikuti semua ujian masuk. yaa, mengambil peluang alias kemungkinan-kemungkinan yang ada. padahal anak saya itu sudah diterima beasiwa di Belanda dan Australia, tapi karena dia masih kecil jadi berpikir ulang. anak juga sebenarnya lebih condong ke luar negeri. akhirnya saya janjikan untuk S2-nya nanti di luar negeri.

Ibu dari Jakarta (IJ): “anak saya umurnya baru 15 tahun. dia ikut kelas akselerasi. sebenernya, dia sudah diterima beasiswa di Jerman, tapi karena pertimbangan krisis ekonomi global, jadi urung. walaupun beasiswa penuh, setidaknya kami sebagai orang tua harus memberinya “uang pegangan”. kemarin dia ngurus sendiri, perlahan kami harus mengarahkannya. akhirnya janji akan mengizinkannya ke luar negeri untuk S2. temen-temen pada bilang saya bego karena melepas peluang itu. biarin deh, soalnya dia masih kecil. tadi aja ribut tentang kaos kaki.”

IJ: “awalnya saya ngisi uang pangkal dengan nominal paling kecil Rp 25 juta. tapi terus di telepon sodara, katanya saya harus naikkin. ya udah, saya pilih yang Rp 35 juta.”

IM: “iya, nih. Suami juga nyuruh yang paling kecil karena dia yakin pasti diterima karena anaknya pintar. tapi saya bilang ke dia, ‘pak, kalau anak pintar tapi ga mo keluar uang, ya jalurnya SNMPTN bukan USM. tempo hari dia ikutan UM UGM tapi ga diterima, padahal diperiksa dengan Bapaknya 98% benar. ga tau tuh.”

Saya ingat cerita teman yang berprofesi sebagai Dosen PTN bahwa di kampusnya, besarnya uang sumbangan merupakan faktor utama yang dipertimbangkan.

Saya: “lalu ujian masuknya hanya sebagai formalitas saja?”

Teman: “Ujian, ya ujian Mba. tapi standar kelulusannya di bawah SNMPTN.”

Ah, saya harus segera menyiapkan adik untuk mampu menghadapi kenyataan jika tidak lulus USM, apapun namanya di PTN manapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s