Pencopet dan Orang Jakarta

Dari terminal lebak Bulus, aku naik angkot hijau menuju pondok cabe. Di dalam angkot, ada 3 orang penumpang. Di kursi panjang ada sepasang nenek kakek tepat berada di belakang supir. Nenek tersebut memegang tas kecil yang terbuka resletingnya. Lalu seorang laki-laki usia 40-an duduk di kotak kecil yang ditempatkan di depan pintu membelakangi sopir. Dia sibuk membaca koran dengan cara yang aneh. Korannya dibuka terlalu lebar hingga menurutku menganggu kenyamanan sang nenek. Karena aku belum tahu dimana harus berhenti untuk sampai di markas besar SEAMOLEC, maka aku bertanya dengan ketiga orang tersebut. Pria yang sedang membaca koran menjelaskan kepadaku dengan ramah. Satu persatu penumpang lain naik dan angkot pun berjalan.

Takdir Allah, diperjalanan aku melihat tangan kanan laki-laki yang baca koran mencoba merogoh tas nenek yang terbuka yang coba dia tutupi dengan tangannya. Saat itu, refleks tanganku menyingkap koran laki-laki itu. Dan spontan dia menendang kakiku. Ugh! Kena tulang keringku! Tapi aku tidak boleh panik atau takut. Dia lalu mengancam akan membunuhku dan sebagainya. Beberapa kali sembari menatapnya, aku katakan, “Apa, Pak?” setelah dia menyatakan ancamannya. Sekuat tenaga aku mengatur nada suaraku dan tatapanku. Ini strategiku untuk menyatakan bahwa aku tidak takut dengan hati yang terus meminta perlindungan Allah.

Kemungkinan terburuk yang telintas di benakku: dia akan mengikutiku ketika aku turun angkot dan benar-benar akan membunuhku. Aku segera mncari tempat untuk turun dimana ada polisi atau satpam. Sekian lama tidak juga aku temukan hingga pada saat salah seorang penumpang pria turun dan pada saat itu HP pencopet itu berdering. Secepat kilat aku ikut turun. Alhamdulillah! Dia tidak ikut turun.

“Lho, emang mo kemana mba?”

Aku menyebutkan tempat seharusnya yang aku tuju.

“Pria tadi siapa?”

Aku lalu menceritakan siapa dia sebenarnya.

“Wah, kenapa ga bilang, Mbak. Kalau tahu saya gebukin tadi. Saya kira itu keluarga, Mbak.”

Pria itu lalu mengarahkanku untuk naik angkot apa untuk sampai ke tujuanku.

Menurut sopir angkot kedua, pencopet biasanya beroperasi pada angkot yang antri di dalam terminal.

Sekitar seminggu memar di kakiku baru hilang. aku bersyukur karena masih ada orang baik dan peduli di kota yang katanya sangat individualis. Tapi… mungkin sebaiknya saat itu aku berpura-pura bertanya kepada Nenek yang bisa membuatnya memperhatikan tasnya saat pencopet beraksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s