Catatan Gado-Gado

Catatan kali ini isinya campur-campur dari yang saya lihat, dengar, rasakan dan pikirkan (sebenernya karena cuma mo nulis cepat tanpa perlu referensi aja. xixixi)

Pertama

Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik.

Parameter yang kita pakai adalah parameter keimanan. Apakah tolak ukurnya dengan banyak hafalan atau banyaknya tahajud? Allohu’alam. Karena jika dikaji lebih dalam, kita tidak tahu niat mereka melakukannya.

Setiap kita pasti merindukan pasangan hidup yang memberikan kebaikan di dunia dan akhirat. Tapi kemudian, kita merasa malu mengingat diri kita seorang hamba yang berlumur dosa. Lalu bagaimana? Istikharah. Minta kepada Alloh agar dipilihkan yang terbaik bagi dunia akhirat kita, terutama yang membawa kita kepada cinta-Nya. Alloh mengetahui segalanya, keimanan seseorang, isi hati, kejadian yang lalu maupun yang akan datang. Semua, semuanya.

Tapi perlu dicatat, bahwa kita beribadah bukan agar mendapatkan jodoh (ih, masih untung diberi kesempatan hidup untuk menghapus dosa). Misalnya kita rajin tahajud karena ingin mendapatkan suami ahli tahajud. Ah, rendah sekali rasanya jika kita mendekat kepada Alloh hanya karena itu. Mengganti cinta Alloh dengan cinta manusia. Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang. Bisa jadi dia adalah ahli tahajud saat ini, namun di masa depan malah meninggalkan sholat wajib (Na’udzubillah). Atau sebaliknya, seperti kisah Abu Thalhah, seorang mualaf yang menikahi seorang muslimah taat, Ummu Sulaim, dengan keislamannya sebagai mahar. Sejarah pun mencatat nama Abu Thalhah sebagai sahabat yang senantiasa dalam kebaikan Islam.

Lurus aja ke Alloh, insya Alloh akan diberi yang terbaik. Seorang Guru pernah menyampaikan, “Jangan minta kaya, tapi mintalah untuk bisa memberi. Jangan minta bangun malam, tapi mintalah bisa tahajud.” Dengan kata lain, jangan minta cinta manusia, tapi mintalah cinta Pencipta manusia.

Kita sebagai manusia pasti ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat orang yang kita cintai, apalagi Alloh yang Maha Mencinta (Jyaa… padahal perasaan sedang tidak nge-blue, kok :P). Jadi, jodoh itu bonus ketaatan kita, bukan?

Kedua

insya Alloh selesai kuliah akan mengajar di almamater S1 dulu. Setelah mulai meninggalkan Jogja pada tahun 2007, (akhirnya) insya Alloh akan bisa kembali menikmati nasi gudhek. Tapi diri ini dibayang-bayangi oleh catatan buruk masa lalu. Teringat akan dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Ah, mudah-mudahan ini jalan yang Alloh berikan untuk menghapus semua itu. Allohummaghfirlii…

Rasa keterasingan mulai menghinggapi. Teman-teman sudah pada menikah dan punya kesibukan masing-masing. Teman-teman kampus sudah bertebaran dan berdiam di belahan lain bumi Alloh. Rasa sepi itu terasa mulai mengganggu. Mungkinkah akan sekuat dulu, saat pertama kali menginjakan kaki di kota budaya itu pada 2001? Cukup penyertaan-Mu, duhai Alloh…

Ketiga

Sungguh, jika kamu bersyukur maka akan Alloh tambah kenikmatan itu. Jika tidak, azab-Nya sangat dahsyat.

Terkadang kita terkecoh dengan warna rumput tetangga, terlihat lebih hijau. Padahal belum tentu demikian. Dan parahnya, aslinya tuh tetangga kita tidak punya rumput.

Apa yang ada, itu yang harus disyukuri. Tidak sekedar mengucapkan hamdallah, tapi melalui tindakan nyata. Dapat beasiswa dalam negeri, maka tekunlah dan belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jangan iri dengan teman yang dapat beasiswa ke luar negeri, karena tidak semua orang dapat beasiswa (bahkan) dalam negeri. Eh, tapi selamat lho buat yang bisa belajar di luar🙂

keempat

Ada orang yang dalam satu harinya melakukan banyak hal manfaat, ada yang hanya sedikit manfaat, bahkan ada yang sama sekali tidak manfaat. Apa yang kita lakukan, itu menentukan kualitas kita. Coba lihat sekeliling kita. Perubahan apa yang telah terjadi pada teman-teman sekolah, organisasi atau kerja kita. Boleh deh menggunakan parameter duniawi seperti materi yang dimilikinya. Tapi yang utama adalah parameter keimanan. Sudah berapa banyak hafalannya, infaqnya, atau secara global, manfaat yang telah dia sebarkan?

Sungguh, waktu yang kita miliki lebih sedikit dari kewajiban yang harus kita tunaikan.

Kelima

Jangan sibuk dengan apa yang dikerjakan orang lain. Tapi sibuklah memikirkan diri sendiri. Berapa banyak dosa yang harus dimohonkan ampun. Berapa banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Berapa sisa usia yang diberikan Alloh kepada kita. Sungguh, kita tidak memiliki banyak waktu untuk mengkritisi apa yang dilakukan orang lain.

Keenam

Jangan sibuk dengan penilaian orang lain. Buat apa? Agar mendapat pujian? ah, bukankah pujian itu hanya suara yang menyapa gendang telinga, masuk telinga kiri lalu keluar?That’s it! Bahkan, pujian bisa bikin sombong hingga hati tertutupi. Sulit menerima kebenaran dari orang lain dan merasa diri paling benar. Wew!

Sibuklah dengan penilaian Alloh. Insya Alloh, hati akan tenang.

Penutup (mana pembukanya?)

Yang terpenting dari setiap kejadian adalah apakah kejadian yang kita hadapi menjadikan kita lebih patuh kepada Alloh atau tidak.

Bumi Siliwangi, di kala mulai menapak kembali di jalan-Nya.

Duhai Alloh, kami mohon hapuskan semua catatan dosa kami sekecil apapun

Dan ampuni semua kelalaian kami

Segala puji hanya bagi-Mu, duhai Tuhan semesta alam

atas kesempatan kesekian kalinya yang Engkau berikan agar kami kembali kepada-Mu

Cukup Engkau, Rasul dan berjuang di jalan-Mu di atas segala-galanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s