Ingin Menjadi Pengajar Yang…

 

Ini terinspirasi dari sebuah sms yang saya terima dulu, sudah lama sekali. Isi SMS-nya, “Tanya dong, apa beda pengajar dengan pendidik?” SMS dari nomor yang tidak saya ketahui siapa pemiliknya sampai sekarang membuat saya terpaksa membuka kamus bahasa Indonesia.

Di dalam kamus perbedaan antara pendidik dengan pengajar adalah pada ada tidaknya perubahan pada penerima pengetahuan. Pengajar hanya sebatas menyampaikan, sedangkan pendidik mengusahakan adanya perubahan (perilaku) pada penerima pengetahuan.

Sejak saat itu saya bertekad bahwa saya ingin menjadi pendidik bukan sekedar pengajar. Apa yang harus saya lakukan untuk itu? (ini teh, masih bab rencana :))

Pertama

Saya harus benar-benar menguasai bidang kompetensi saya. Ini masih jauh dari target. Harus fokus dan membutuhkan waktu, bahkan puluhan tahun (terima kasih nasihatnya, Pak).  Setidaknya saya sudah memulai langkah pertama. Bismillah…

Kedua

Saya akan menyampaikan materi dengan bahasa sederhana agar mahasiswa mudah memahaminya.

Ketiga

Saya akan senantiasa menggunakan kacamata positif kepada tiap mahasiswa saya. Setiap mahasiswa saya adalah orang-orang hebat yang diberi Alloh kelebihan masing-masing. Tugas saya adalah membantu mereka menemukan kelebihan itu dan memaksimalkannya hingga menjadi kompetensi mereka. Dan menurut saya metode kecerdasan majemuk cocok sekali untuk itu. Semoga Alloh melindungi saya dari mematikan potensi mereka.

Keempat

Mereka adalah amanah saya sehingga mereka memiliki hak terhadap saya pada batas-batas tertentu. Saya akan mempermudah mereka dalam berinteraksi dengan saya. Bisa email, FB, maupun blog.

Kelima

Saya akan berempati kepada mereka. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda dan yang pasti, ingat dulu ketika saya di posisi mereka. Oya, saya tidak akan melihat besarnya nilai, tapi kosentrasi saya adalah pada besarnya pencapaian yang diraihnya. Jika seorang mahasiswa sudah memiliki modal 7, lalu menjadi 9. Itu baik. Namun jika mahasiswa dengan modal 3 lalu menjadi 6, itu juga baik, bahkan lebih baik. Karena mahasiswa pertama mengalami peningkatan 2, sedangkan yang kedua meningkat 3.

Keenam

Saya akan berusaha membentuk mahasiswa pinter tapi tidak keblinger, bukan pinter yang lalu minterin orang lain dan saya akan berusaha membentuk mahasiswa yang bersifat sosial artinya mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan berbagai jenis orang dan masyarakat di luar kampus. Umm, sepertinya dengan menganjurkan mereka mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM).

Ketujuh

Ummm, apa lagi ya? Ntar deh, kalau sudah ada ide lagi.

 

 

 

Sebenarnya pengajar yang butuh mahasiswa karena ilmu akan menjadi bermanfaat (jadi amal jariyah),  lebih terasah  dan matang ketika disampaikan kepada orang lain (mahasiswa). Lha, kalo ga ada yang menerima pengetahuan dari kita, gimana? Dan bukankah dengan adanya mahasiswa, para pengajar akan termotivasi untuk menambah ilmunya?🙂

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s