Model Perempuan dalam Al-Qur’an

Sudah lama punya niat menulis yang berkategori ‘perempuan’ tapi belum kesampean karena tesis (maafkan daku, tesis. Dikau jadi kambing hitam lagi). Kali ini dipaksakan, daripada facebook-an (Ups! Ketauan). Hasilnya adalah tulisan super duper singkat berikut. Semoga bermanfaat🙂

Ada beberapa model perempuan yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Pertama, perempuan baik dengan keluarga yang baik. Misalnya istri Nabi Ibrahim, Ibunda Hajar. Ketika akan ditinggalkan di padang pasir yang tandus hanya bersama bayinya, Beliau mengatakan tidak mengapa ditinggal Nabi Ibrahim karena itu adalah perintah Alloh. Anak yang dihasilkan dari didikan seorang Hajar adalah nabi Ismail. Sebuah dialog keimanan yang diabadikan Al Qur’an dalam surat Ash Shofat (37): 102.

… Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

yang kemudian Alloh mengganti nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan.

Model pertama adalah model ideal yang ingin dimiliki oleh siapa pun. Seorang perempuan yang sangat tahu posisinya sebagai hamba Alloh dan istri dari seorang utusan Alloh yang bertugas menyebarkan nilai-nilai Islam. Kemudian Beliau dikaruniai anak sholih penerus risalah suaminya.

Kedua, perempuan baik dengan keluarga tidak baik yaitu istri Fir’aun, Aisiah. Walaupun suaminya adalah seorang penguasa tunggal di Mesir kala itu, namun itu tidak membuatnya membenarkan atau mendukung perbuatan suaminya, Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Model ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa keyakinan akan Alloh di atas segala-galanya termasuk kecintaan pada suami. Pelajaran lainnya adalah tidak menutup kemungkinan seorang perempuan untuk menjadi baik walaupun dia berada di lingkungan yang kurang baik.

“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At Tahrim (66): 11)

Ketiga, perempuan buruk dengan keluarga baik. Misalnya istri Nabi Nuh dan istri nabi Luth. Istri Nabi Luth bukannya mendukung suaminya dalam menyebarkan ajaran Islam, namun dia ikut membantu kaumnya berbuat dosa yaitu kebiasaan homoseksual. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada jaminan bahwa jika memiliki suami yang sholih, maka wanita yang mendampinginya akan menjadi sholihah. Semuanya kembali pada pilihan sang perempuan, apakah dia mau menerima nilai-nilai kebaikan dari suaminya atau tidak. Semoga kita dilindungi Alloh dari model ini, yaitu seorang perempuan yang memiliki suami yang baik namun nilai-nilai kebaikan itu tidak membuat dirinya lebih baik. Ah, sangat merugi perempuan model ini. Untuk itulah, kita sebagai perempuan sangat perlu untuk terus membina diri (baca Pembinaan Diri Perempuan di blog saya).

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At Tahrim (66): 10)

Model terakhir, keempat adalah perempuan buruk dari keluarga buruk, yaitu istri Abu Lahab. Suaminya adalah orang yang sangat benci Islam dan memerangi Islam, dia membantu suaminya memerangi Rasululloh saw. Hebat euy, bahu membahu berbuat dosa. Semoga Alloh melindungi kita.

Sahabat, kita tinggal memilih ingin menjadi perempuan model yang mana. “Jyaah, Teteh, kita juga ga pesen lahir dari keluarga yang ‘begini'”. Huhuhu. Sahabat tidak perlu menyesali karena semua keputusan yang Alloh berikan kepada kita pasti suatu kebaikan. Hanya kita saja yang kadang tidak bisa menangkap maksud dari setiap kejadian, terlalu centil dan sok tau dengan menggunakan parameter-parameter kita sendiri. Yuks, kita mulai dari diri kita sendiri. Mulai niatkan untuk menjadi lebih baik dan mulai sekarang juga.

“Tapi gimana dong, Teh, udah terlanjur menikah dengan suami yang tidak seperti Nabi Ibrahim?” Kalau masalah pasangan hidup, itu bonus dari Alloh (baca catatan gado-gado di blog saya) dan tidak juga kemudian berpikir untuk mencari suami baru, lho ya. Ah, bisa jadi suami Sahabat dalam hati berkata, “Kok, istriku ga seperti Hajar ya?”😛. Yang perlu dilakukan adalah sama-sama belajar dan mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Kedua belah pihak harus berusaha menjadikan dirinya dan diri pasangannya untuk lebih baik.

Sekiaaan. Silahkan, jika Sahabat ingin memberi masukan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s