Kehati-hatian (Wara’) Seorang Perempuan

Islam sangat mengajarkan sikap berhati-hati (Wara’). Hal ini banyak dicontohkan oleh orang-orang shalih terdahulu.

Abu Bakar Ash Shidiq pernah memakan makanan yang dibawa oleh seseorang. Beliau bertanya, “darimanakah asal makanan ini?”

Orang tersebut menjawab, “dari seseorang yang datang kepadaku dan minta diramal. Lalu aku memberikan jawaban dengan menebak-nebak saja. Dia mengira aku masih suka meramal.”

Mendengar itu, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya ke kerongkongan, hingga memuntahkan makanan yang tengah dimakannya.

Kisah lain tentang seorang wanita pandai menenun. Pada suatu malam, lampu yang biasa meneranginya tidak dapat digunakan, lalu dia menggunakan penerangan cahaya bulan untuk menenun. Ketika dia menjual hasil tenunannya, dia terangkan, “Ini hasil dengan menggunakan lampu dan ini dengan menggunakan cahaya bulan.”

Atau kisah seorang shalih yang bermimpi melihat seorang wanita. Yupz! Just a dream. Tapi dia merasa sangat ketakutan, dia takut sekali kepada Alloh karena melihat yang tidak halal baginya (bukan mahrom).

“Sesungguhnya yang halal telah jelas, dan yang haram telah jelas, dan di antara keduanya ada yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barang siapa yang menjaga dirinya dari yang syubuhat maka dia telah menjada agama dan harga dirinya. Barang siapa yang jatuh pada yang syubhat, maka dia akan terjatuh pada yang hal yang haram, seperti seorang gembala yang mengembalakan ternaknya di daerah terlarang, maka ia akan nyaris terperosok jatuh ke dalamnya.” (HR Bukhori)

Kehati-hatian meliputi beberapa hal:

1. Ucapan

Sahabat, Rasululloh pernah mengatakan dalam sebuah hadits bahwa penghuni neraka kebanyakan adalah wanita dan penyebabnya adalah lisan yang tidak terjaga. Kebanyakan kita, para perempuan lebih banyak bicara daripada kaum Adam. Perkataan yang kita keluarkan jangan sampai masuk dalam kategori dusta atau ghibah (menceritakan orang lain).

Seorang shohabiyah pernah memanggil anaknya, “Nak, kemari. Nanti Ibu beri sesuatu.”

Rasululloh mendengar itu lalu bertanya, “Apa yang akan kau berikan?”

“Kurma ya, Rasululloh.”

“Maka berikanlah karena jika tidak, kau telah berdusta.”

Jika yang kita ceritakan itu tidak ada pada diri orang yang kita ceritakan maka itu termasuk fitnah, jika ada maka termasuk ghibah. Nah, orang yang menceritakan orang lain, maka dosa-dosa orang yang diceritakan itu akan dihapuskan oleh Alloh, sementara yang menceritakan di dalam neraka dia akan mencakar wajah dan lehernya dengan kuku-kuku tembaga tangannya sendiri .

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf (50): 18)

2. Perbuatan

Hendaknya kita senantiasa hanya melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai Alloh. Karena,  “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al zalzalah (99): 7-8)

Tinggalkan perbuatan yang sia-sia sekuat tenaga. Apalagi bulan puasa sebentar lagi. Daripada kita ngabuburit di Mall, lebih baik perbanyak membaca Al-Qur’an atau istighfar.

“Termasuk tanda baik keislaman seseorang, ia meninggalkan hal-hal yang sia-sia baginya.“ (HR. At Tirmidzi no. 2318)

3. Makanan

Abu Hurairah ra. berkata, Rasululloh bersabda, “sesungguhnya Alloh itu baik dan hanya menerima yang baik. Dan sesungguhnya Alloh memerintahkan kepada orang-orang mukmin segala apa yang diperintahkan kepada para Rasul.

Alloh berfirman, “Wahai para Rasul, makanlah kalian dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal sholih.” (Al-Mukminun: 51) Alloh juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman makanlah kalian dari makanan yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepada kalian.” (Al Baqoroh: 172)

Lalu Rasulullah bercerita tentang seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut dan kotor. Ia lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit (seraya berdo’a), “Ya Rabb, ya Rabb”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia kenyang dengan barang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan?” (HR. Muslim)

Sahabat, kita yang berperan sebagai istri dan Ibu punya kewajiban untuk melindungi keluarga kita dari barang-barang haram. Diantaranya dengan memastikan penghasilan yang diperoleh suami kita dari jalan yang halal. Kerena jika penghasilan itu adalah uang haram, maka segala sesuatu yang kita beli dengan menggunakan uang itu statusnya haram.

Ketika membeli makanan, para Ibu hendaknya berhati-hati dengan memperhatikan label halal dan bahan penyusunnya. Jika tidak ada label halal, sebaiknya dihindari kecuali bumbu-bumbu dapur yang kita beli di pasar tradisional seperti cabe, bawang, dan sejenisnya🙂 Daftar makanan yang telah bersertifikat halal dapat sahabat lihat di http://www.halalmui.org/ atau http://www.halalguide.info/

Juga pada saat makan di tempat makan, misalnya di rumah makan Jepang atau Cina. Ada beberapa makanan olahannya yang menggunakan anggur atau sake, atau pengolahannya tidak secara Islam misalnya ayam yang digunakan tidak disembelih secara Islam. Yang aman, sih rumah makan padang. Yay!

Ajari juga anak-anak kita tentang makanan yang halal dan yang tidak sejak dini.

4. Mengambil sesuatu yang bukan hak kita

Ketika kita membeli buah pada seorang penjual buah, yang sering terjadi adalah,

“Pak, dukunya manis ga?”

“Manis, Neng.”

“Yang bener? Nyobain, ya.” Dan dengan sigapnya kita mengambil beberapa buah duku. Terkadang jika kita membawa teman atau anak, mereka pun ikutan mengambil.

“Berapa sekilo?” sembari terus makan duku.

“Enam ribu.”

“Kurang dong. Lima ribu aja, yah.”

“Iya, deh. Beli berapa kilo?”

“Setengah aja.” Ketika Penjual akan memberikan pesanan kita, kita mengatakan “tambahin dong.” Dan terkadang, kita ngambil sendiri.

Ampun deh, beli cuma setengah kilo tapi nyicip dan minta tambahnya hampir sama dengan yang dibeli. Kalau saya yang jadi penjual, “Aaarrgggh @#$%^&*+!!!!!”🙂 Sahabat, jika sang penjual tidak rela dengan duku yang kita makan, maka duku itu sudah bernilai haram.

Atau misalnya tentang batas tanah, ini  yang sering kali menimbulkan konflik. Jika kita ragu batas tanah kita, maka ambil yang paling sedikit jarak/jumlahnya sehingga tidak ada tanah orang yang kita ambil.

Sahabat, ketika berbuat, berucap atau memakan sesuatu, segera periksa hati kita. Karena jika itu sesuatu yang buruk, pasti hati kita tidak akan tenang.

“Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai komentar kepadamu.” (Shahih al-jami’ no. 2881)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s