Episode Berjilbab

Sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya mengidolakan salah seorang teman saya. Dia keturunan sunda, cantik, ramah dan pastinya pintar. Selama tiga tahun, dia menjadi juara paralel di sekolah. Juara 1 dari keseluruhan kelas yang ada di sekolah. Alhamdulillah saya sempat satu kelas dengannya pada saat kelas 2. Suatu hari, dia pernah berkata akan mengenakan jilbab jika SMU nanti. Saat itu, tanpa pikir panjang saya mengatakan keinginan yang sama.

Saat masuk SMU, saya ga inget sama sekali akan niat berjilbab itu. Ketika sekitar 3 hari menjelang masuk liburan catur wulan (cawu) kedua kelas dua SMU. Saya termangu di depan kaca. Saya berbicara pada diri sendiri dalam hati, “saat ini pemerkosaan banyak sekali. Ah, kayaknya saya akan aman kalau berjilbab.” Sudah. Begitu saja. Saya langsung mengatakan niat itu kepada Ibu. Lalu Ibu mengajak saya ke pasar untuk membeli seragam baru dan jilbab. Saat itu saya hanya punya 2 buah jilbab langsungan. 1 warna putih untuk seragam putih-abu-abu dan satu lagi warna krem untuk seragam pramuka. Terkadang saya pakai jilbab adik saya yang baru TK. Hihihi. Al hasil jika saya menunduk, maka tengkuk leher saya kelihatan.

Saya tidak ada pertimbangan macem-macem ketika memutuskan berjilbab seperti yang banyak disampaikan banyak wanita saat ini. Mulai dari alasan hati belum bersih sampai dengan belum nyiapin baju-baju dan jilbabnya. Ah, hati manusia itu sangat mudah berubah. Seperti yang saya alami. Niat baik itu bisa hilang begitu saja. Dan yang namanya manusia, tidak akan sampai titik sempurna seperti Rasululloh. Bukan berarti sudah berjilbab pun akan bebas dari penyakit hati. Tapi mungkin beda kadar dan jenis ujiannya. Kenapa kita tidak melakukan apa yang bisa kita lakukan terlebih dahulu? Berjilbab sembari membersihkan hati. Berjilbab itu jauh lebih mudah daripada membersihkan hati. Setidaknya jilbab akan menjadi benteng kita untuk berbuat dosa. Misalnya saat akan menggunjing orang lain, kita inget bahwa kita berjilbab dan menggunjing itu dosa.

Ketika baru berjilbab, bisa jadi saat bepergian yang melekat di tubuh saya bukan milik saya semua. Kemeja tangan panjang punya Papa, rok-nya punya Ibu atau Nenek dan jilbabnya punya Adik😀. Atau di lain hari saya menggunakan pakaian saya seadanya. Baju ketat tangan panjang, celana jins (kadang belel) plus sandal jepit. Boro-boro pake kaos kaki. Belum tau euy, kalau aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Saat itu juga pake jilbabnya masih On-Off. Kadang pake, kadang nggak. Ada tamu laki-laki ke rumah pun, dengan cueknya saya tidak berjilbab.

Eh, ya. Ada yang berbeda saat saya berjilbab. Saat di terminal, biasanya ada yang iseng godain. Ketika saya belum berjilbab, kalimatnya berupa pelecahan. Saya masih ingat hingga saat ini. Tapi ga akan saya tulis di sini😛. Tapi setelah saya berjilbab, paling digangguin dengan kalimat, “assalammu’alaikum.” Weeeh, malah dido’akan.

Saat itu, teman-teman kerohanian Islam (rohis)  kembali mendekati saya. Waktu kelas 1 saya pernah ikutan karena mereka promosinya memberikan latihan soal-soal ujian. Itu menarik bagi saya. Namun hanya bertahan 1 cawu. Well, kali ini mereka mengikat saya dengan memberikan amanah sebagai anggota majalah dinding dan saat ini lah saya baru ngeh kalau ternyata saya bakat nulis (heuheu). Dimana-mana, pemimpin itu adalah laki-laki. itu doktrin yang saya terima saat itum walau kemudian saat ini saya memahami, untuk lingkup tertentu dan jika kapasitas wanita lebih baik dari laki-laki, maka wanita bisa menjadi pemimpin. Saat itu, ketua bidang mading adalah laki-laki. Kalo ga salah di bidang itu kita bertiga. Tapi sekali terbit, isinya adalah tulisan saya semua. Mulai dari cerpen, info dunia Islam, dan sebagainya kecuali puisi. Angkat tangan untuk satu itu. Selesai saya tulis, lalu minta tolong teman anggota lain untuk memberi sentuhan artistik. Semuanya dikerjakan manual, wong saya aja nulisnya masih ngandelin mesin tik yang kadang kelingking saya masuk ke dalamnya.

Kegiatan saya selain sekolah, ya sibuk di rohis itu tadi. Rohis punya pembina selain guru adalah mahasiswa dari universitas negeri jambi (UNJA). Nah, kakak-kakak yang biasa ngisi kajian keputrian jilbabnya gede-gede. Saya ingat ketika itu sulit didapati jilbab bermotif atau warna-warni selain hitam, putih, biru dongker dan krem. Di kelas dua itu, saya sempat duduk sebangku dengan juara 1 paralel di SMU. Saat itu dia belum berjilbab dan ketika berjilbab dia langsung menggunakan jilbab gede. Huaaa, dia begitu cantik dan makin mengagumkan. Padahal saya duluan berjilbab, tapi ga langsung yang gede. Saya pun mulai membeli jilbab lipat, yang bisa pake peniti. Yupz! Penitian satu di bawah dagu, trus sisanya kalau ga dipenitiin lagi, diikat seperti dasi atau dipakein hiasan seperti cincin khusus jilbab, jadi tinggal masukin. That’s it. Saya juga mulai konsisten berjilbabnya, tidak On-Off lagi dan mulai berkaos kaki🙂. Saya juga mulai kenal nasyid dan bacaan yang lebih islami seperti majalah Annida dan Sabili.

Saya terus belajar. Suatu ketika, tetangga saya pernah mendekati saya dan meminjami buku-buku Islam. Saya seneng aja tapi ternyata buku-buku itu dari suatu aliran Islam. Bukan aliran sesat namun termasuk ekstrim. Saya sempat menerapkan dari apa yang saya baca. Ah, ternyata berat karena kurang ilmu. Diantaranya, menggunakan jilbab berwarna gelap yang ujungnya sampai ke betis dan menganggap semut itu sebagai bangkai. Di daerah asal saya, sulit mendapatkan forum-forum kajian, tidak seperti di Pulau Jawa.

Tamat SMU, saya lulus UMPTN (sekarang SNPTN) pada pilihan kedua, pendidikan kimia UNJA. Ortu berdo’anya saya lulus di pilihan pertama, kedokteran. Maapin😦. Di sini saya ikut mentoring (asistensi agama Islam) seperti yang diadakan di ITB, UGM dan universitas lainnya. Setelah itu saya ikut follow up-nya berupa liqo’. Ini titik balik saya. Di sini saya belajar lebih dalam mengenai Islam. Walau tidak semuanya saya dapat di forum ini, namun cukup menjawab kehausan akan pengetahuan Islam. Asyiknya di mentoring dan liqo’ ini, kita bisa berdiskusi masalah wanita secara lebih mendetail. Misalnya tentang haid. Kan kalau di forum kajian umum, malu euy bertanya tentang itu.

Alhamdulillah orang tua saya mendukung walau Ibu kadang riweuh melihat saya berjilbab. Duluuu, Beliau sering protes, “Tik, coba pake jilbab gaul gitu lho, yang dililit-lilitin di leher.” Jawaban pamungkas saya sih, “Ini Tika, anak Ibu. Beda dengan mereka.” Karena saya keukeuh, Ibu bosen sendiri. He… Saat di Jogja, saya coba pake jilbab gaul. Saya liat di majalah model jilbab gaul yang tetap syar’i. Oya, jilbab (dan pakaian) syar’i itu syaratnya cuma tiga:

  1. Tidak transfaran.
  2. Tidak Membentuk.
  3. Jilbab menutupi dada (batas minimal).

Well, saya hanya bertahan 3 hari. Saat menggunakan jilbab itu, saya merasa semua laki-laki sepanjang jalan memperhatikan saya. Saya merasa ditelanjangi. Walau pun saya memenuhi 3 syarat itu. Ditambah, ternyata sirkulasi ke kepala terhalang karena lilitan jilbab di leher. Jadi lebih cepat kepanasan. Apalagi Jogja yang cuacanya bikin gerah.

Itu dia episode berjilbab saya. Setiap kita pasti memiliki kisah yang berbeda dalam mendapatkan hidayah itu. Saya bisa memahami teman-teman yang jilbabnya belum memenuhi standar syar’i. Saya pikir itu bagian dari suatu proses. Hanya saja proses itu harus dimulai. Seperti proses memasak nasi. Agar beras itu berubah menjadi nasi, maka mulailah mencuci beras itu, nyalakan kompornya, dan seterusnya. Jangan lupa untuk senantiasa menjaga api selama proses itu agar tidak mati atau nyalanya terlalu besar hingga bisa menyebabkan gosong. So, mulailah untuk memenuhi standar syar’i. Gaya atau model jilbab boleh gimana aja, asal tetap syar’i.

Kita ber-Islam itu seperti menapaki anak tangga-anak tangga. Ada yang puas dengan posisinya saat ini, hingga dia diam di tempat. Namun ada yang terus menapaki anak tangga selanjutnya. Walau kadang dia terjatuh, namun dia akan bangkit kembali hingga mencapai posisi tertinggi di sisi Penciptanya.

Bumi Siliwangi, 17 Ramadhan 1431H

kala masih memulihkan kesehatan tubuh

Jika ku harus menghadap-Mu, pertemukan aku dengan-Mu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s