Lelaki Hitam dan Handphone-nya

Tadi pagi, saya harus pergi ke Pusdai untuk menemui teman. Di perjalanan, tiba-tiba ada seorang laki-laki hitam mendekati saya dari samping. Saya sedikit terkejut karena tengah fokus memikirkan sesuatu. Laki-laki itu menyodorkan handphone (HP)-nya. HP jadul dengan layar monochrome dan keypad biasa.

“Mba, tolong kirimkan SMS.” Dari logat dan fisik tubuhnya, laki-laki ini berasal dari wilayah timur Indonesia

Saya memperhatikan layar editor HP tersebut. Hmm, fitur ‘kamusnya’ aktif. Jika fitur ini aktif, maka apa yang kita ketik akan berubah secara otomatis pada layar karena hp akan memberikan rekomendasi kata yang dia miliki dan seringnya tidak seperti yang kita inginkan. Mungkin ini yang membuatnya bingung menulis SMS. Entah memang karakter dasar saya atau karena saya seorang guru, maka saya lebih suka memberi ‘pancing’ daripada ‘ikan’. Lantas, saya mengajarinya cara me-non-aktifkan fitur kamus itu.

“Begitu, Pak. Gimana, mo ngetik sendiri?” tawar saya setelah fitur kamusnya saya non-aktifkan.

“Nggak. Mba aja yang nulis.” Kemudian dia menyebutkan kalimat yang diinginkannya. Sebenarnya dia belum terlalu tua. Mungkin usian 30-an dan pastinya tidak ada kendala dalam membaca karena ternyata SMS itu adalah SMS balasan yang harus dia kirimkan. Karena ada lho, orang yang ga bisa baca tapi buat nge-gaya, dia bawa-bawa HP ke mana-mana🙂.

Setelah selesai, dia mengucapkan terima kasih dan saya kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang sisa perjalanan saya berpikir, “Kenapa, Alloh?”

Mungkin sesuatu yang lucu atau bahkan aneh jika saat ini masih ada yang belum bisa mengirim SMS. Apalagi pada kasus Bapak itu. Padahal sekarang sudah teknologinya touch screen dan HP yang terkoneksi dengan internet. Bagi saya, kejadian ini teguran dari Alloh untuk bersyukur. Bersyukur atas banyaknya nikmat ilmu yang Alloh berikan kepada saya. Bisa mengenal internet, googling, FB, blog, dan lainnya dan semuanya saya dapatkan secara gratis dengan uang beasiswa. Dan saya harus bersyukur dengan memanfaatkan pengetahuan yang saya miliki untuk hal-hal positif dan menolong sesama. Ah, sesungguhnya kelak, akan ditanyakan dimanfaatkan untuk apa saja ilmu yang dimiliki seseorang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s