KNSI 2011- Hari Ketiga di Medan

Hari ketiga acaranya adalah wisata ke Danau Toba. Yay! Berangkat dari STMIK Potensi Utama sekitar pukul 08.05 WIB. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 4 jam. Menuju Danau Toba, rombongan saya melewati tol Tanjung Mulia, tol Tanjung Morawa, Deli Serdang, Lubuk Pakan, Buluh Perbaungan, Sedang Bergadai,  Tebing Tinggi, Siantar, dan Simalugun. Di daerah Buluh Perbaungan, kami jumpai kebun sawit dan karet walau tidak sebanyak jika kita melewati jalan Lintas Utara Sumatera, dari Sumatera Selatan menuju Jambi. Mendekati daerah Danau Toba, akan kita jumpai banyak gereja mewah dan hanya 1 buah masjid.

Sesampainya di sana, acara dimulai dengan makan siang dan lucky draw. Alhamdulillah, kali ini saya dapat berupa flash disk 8 GB. Temen saya yang semalam dapat flash disk, kali ini dapat lagi. Dosen saya yang semalem dapat, hari ini pun dapat lagi berupa handphone. Wah, ini mungkin berkah karena membawa istri, Pak. He…

Kami menyeberang ke Pulau Samosir dengan kapal kecil setelah melakukan sholat dzuhur. Di atas kapal kami dihibur dengan anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu nusantara. Yang pasti lagu Butet merupakan lagu andalannya.

Saya sempat berbincang-bincang dengan 3 orang adik pengamen itu. Mereka adalah anak-anak kelas 5 dan 6 SD. Saya bertanya pada salah satu dari mereka tentang cita-citanya. Dan cita-citanya adalah Tukang Bolen. Saya tidak mengerti apa itu. Lalu yang lain menjelaskan kepada saya bahwa itu adalah Tukang pemasang lampu. Oooh, orang PLN kali ya. Saya takjub. Jarang kan yang punya cita-cita seperti ini. Umumnya pada usia itu kita bercita-cita jadi presiden atau dokter.

Yang memakai topi yang ingin menjadi tukang Bolen

Dari atas kapal, kami melihat “batu gantung”. Itu batu yang menggantung, terbentuk secara alami mirip dengan batuan di langit-langit gua. Lalu kami singgah di tempat wisata Tomok. Di sana kami berkunjung ke makam raja Tomok dan Boneka Singgale-gale.

Dulu, raja Marha memiliki anak laki-laki bernama Simanggale yang pintar menari. ketika terjadi perang, anaknya hilang tanpa jejak. Hal ini menyebabkan raja gila. Suatu hari, raja melihat patung yang mirip dengan anaknya yang disebut Sigale-gale. Agar patung itu bisa bergerak, dipanggilah dukun yang bisa memindahkan arwah anaknya ke dalam patung (ssst, ini sih tidak mungkin dalam agama Islam. Yang ada juga jin yang ngaku-ngaku sebagai arwah seorang manusia. Wong dukun itu mainannya dengan jin, kok ya). Namun patung itu hanya bisa menari selama 7 hari 7 malam. Setelah itu berhenti. Untuk saat ini, boneka tersebut digerakkan dengan menggunakan tali. Di sana ditampilkan beberapa gerakan tarian daerah Batak. Tidak banyak gerak, hanya jari-jari tangan saja yang digerak-gerakkan seperti yang biasa kita lihat di televisi. Tidak seperti jaipong atau tarian melayu lainnya yang sangat melenggak-lenggok, apalagi street dance-nya 2 PM yang sampai jumpalitan. Haghag.

 

Boneka singgale-gale

Setelah itu kami beranjak ke makam raja tomok. Di sana ada beberapa makam. Makam raja pertama yang merupakan penganut permalin. Raja kedua beragama Islam berasal dari Aceh dan raja terakhir penganut katolik. Di sana ada beberapa makam prajurit. Ada juga rumah kecil tempat menyimpan tulang belulang orang yang meninggal. Di bagian belakang rumah kecil tersebut ada tempat memasukkan mayat. Jika pihak keluarga -biasanya anaknya- telah punya cukup dana, maka tulang-belulang tersebut diangkat dari tanah dan dimasukkan ke dalam rumah. Upacara tersebut merupakan upacara terbesar bagi orang Batak. Semakin mewah dan meriah acaranya, maka dianggap semakin menghormati orang tuanya. Jadi ingat upacara Ngaben di Bali. Oya, apapun kegiatan atau upacara di sana, disebut dengan ‘pesta’. Walaupun seperti upacara pengangkatan tulang tadi, tetap disebut pesta.

 

Rumah penyimpanan tulang

 

Makam Raja Tomok ke-II

Setelah itu acara bebas. Kami bebas jalan-jalan dan berbelanja. Lalu pada pukul 17.00 berkumpul kembali di dekat kapal. Harus benar-benar pintar menawar, euy. Misalnya saja gantungan kunci berbentuk rumah adat terbuat dari kayu ditawarkan Rp 10.000. Akhirnya kami bisa mendapat dengan harga Rp 3.000/buah. Seorang peserta komentar, “Kalau beli gantungan kunci menara Eifel di dekat menaranya, 1 euro (+- Rp 12.000-red) kita dapat 10 buah. Padahal itu terbuat dari tembaga.” Yeah, that’s the way it is. Ada juga kain songket, kain tenun dan sebagainya. Untuk warna dan motif kain mempunyai makna tersendiri. Misalnya warna gelap mencerminkan duka cita.

Tugu dekat kapal penyeberangan. Selesai berbelanja.

Kami kembali ke Medan sekitar pukul 19.30 WIB setelah makan malam dan sholat maghrib. Ternyata teman baik saya menghubungi saya. Akhirnya saya telepon balik karena saya tidak ngeh jika dia menelpon. Ternyata dia membelikan saya oleh-oleh bolu meranti dan bika ambon. U… yeaaah. Thanks a lot, my best friend.

Sopir terbaik kami sudah stand by di STMIK untuk mengantar kami kembali ke hotel. Beliau memberitahu bahwa kami diberi oleh orang tua teman saya oleh-oleh berupa 2 kotak bolu meranti dan 1 kotak bika ambon. *rock*. Sampai hotel langsung packing karena kami pulang dengan penerbangan pagi. Saya hanya tidur 30 menit karena khawatir kesiangan. Secara, teman sekamar saya pulang duluan pagi hari tadi.

Tulisan lainnya:

pengalaman hari pertama

pengalaman hari kedua

pengalaman hari terakhir

behind the scene

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s