Mengajar Kelas Ekstensi

media.thenewstribune.com

Ini cerita tentang pengalaman pertama (dan mungkin terakhir) saya mengajar kelas ekstensi di salah satu PTS di Bandung.

Yang namanya kelas ekstensi sudah pasti pesertanya adalah para pekerja. Masuk kelas di malam hari pada saat fisik sudah lelah, lebih memilih kerja daripada masuk kelas atau mayoritas mencari ijazah saja daripada ilmu merupakan beberapa karakter dari kelas ekstensi.

Pada pertemuan terakhir sebelum pelaksanaan UTS, saya sudah membahas soal yang mirip dengan soal UTS. UTS dilakukan secara open book. Soal yang bersifat teori ada di slide yang pernah saya berikan, namun perlu penambahan dari referensi lain. Misalnya perbedaan Windows dengan Linux. Di slide hanya saya berikan 2, maka di soal saya minta jelaskan 3. Soal yang hitungan ada yang persis dengan latihan -hanya angkanya yang diubah- dan soal yang sedikit diubah. Misalnya saat latihan diketahui nilai a dan b, tentukan nilai c dengan rumus a+b = c, maka saat UTS yang saya tanyakan nilai a, jika b dan c diketahui. Hasil UTS: sangat tidak memuaskan.

Nah, karena nilai UTS pada jelek, saya adakan perbaikan. Soalnya 90% sama dengan UTS dan open book juga. Hanya angka-angkanya saja yang dibedakan. Hasilnya? Hampir sama, jelek. Namun ada juga mahasiswa yang nilainya meningkat. Ada mahasiswa yang protes dengan perbaikan UTS. Dia tidak bisa mengisi karena pada saat diterangkan dia tidak hadir. WHAT??!!! Salah siapa coba? Kok, tidak usaha belajar? Fiuh! Hanya bisa ngomong dalam hati.😦

Belum lagi dengan tingkat kehadiran. Sebenarnya saya adalah orang yang tidak terlalu mempersalahkan tentang kehadiran. Karena kita bisa belajar dimana saja. Yang penting paham. Namun karena ini kelas para pekerja, maka saya harus menghargai mereka yang tetap hadir di kelas. Ada peristiwa lucu. Beberapa hari sebelum pelaksanan UTS, ada mahasiswa yang mengirimkan SMS kepada saya. Isinya meminta agar pelaksanaan UTS diundur karena dia ada pekerjaan hingga pekan depan. WHEW!!!

Untuk pemberian nilai, saya sudah menjelaskan kepada mahasiswa poin-poin apa saja dan besarnya % nilai dari masing-masing poin. Karena hasil UTS tidak terlalu baik, akhirnya saya memutuskan untuk memberi UAS berupa pembuatan makalah. Tujuannya agar ada peluang bagi saya untuk menaikkan nilai mereka. Karena penilaian makalah bersifat kualitatif. Ini saya lakukan karena ingat kata ‘kasihan’ yang dititipkan  bagian akademik PTS tersebut kepada saya ketika akan mengajar. Kata ini yang kemudian membuat saya harus melibatkan rasa empati yang besar ketika memberi nilai. Harus mempertimbangkan semangat mereka untuk kuliah (apa pun tujuannya), memikirkan uang yang harus mereka sisihkan dari nafkah untuk keluarga, keinginan untuk meningkatkan taraf hidup (pastinya) dan lain-lain.

Pengalaman berharga.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s