Kisah Sedih Pengusaha Batik di Yogyakarta

Ini adalah tempat kesekian kalinya yang saya datangi. Panas menyengat Yogyakarta benar-benar membuat saya rindu akan Bandung. Alhamdulillah, saya bisa disejukkan dengan keramahan pegawai home industry batik tersebut.

Setelah bertanya kepada pegawai di bagian showroom, saya diantarkan ke bagian belakang gedung yang ternyata merupakan tempat produksi batik. Saya berhadapan dengan Pak Hadi, kepala bagian produksi. Usianya saya kira sudah 60 tahunan. Setelah Beliau menyatakan tidak keberatan, dilanjutkan dengan berkisah mengenai industri Batik di Jogja

Ada 21 orang yang bekerja di bagian produksi. Ternyata, tempat ini memproduksi batik tulis sejak tahun1950. Dan Beliau sudah ada di sana sejak 1959. Yang membuat saya terkejut bukan kepalang adalah dulu perusahaan ini memiliki 100-an pegawai yang membatik di perusahaan dan yang bekerja di rumah masih-masing 400-an orang. Ah, tidak pantas untuk disebut sebagai home industry.

Penjualan menurun dan banyak yang gulung tikar sejak maraknya penggunaan mesin tekstil yang dimulai pada zaman Soeharto. Menurut Beliau saat itu Bu Tien Soeharto mendorong penggunaan mesin-mesin tekstil buatan Cina. Nah, jika yang dihasilkan mesin, itu bukan batik tapi tekstil bermotif batik. Duuh, malunya saya karena saat itu saya mengenakan tekstil bermotif batik.ūüė¶ ¬†Hal itu diperburuk dengan masuknya produk-produk tekstil bermotif batik¬†dari Cina.

Beliau juga menceritakan bahwa dulu ada perhimpunan pengusaha batik yang bertugas mengontrol iklim industri batik tanah air. Pembelian bahan (kain, malam atau lilin batik dan lain-lainnya) dijatah, harga terkontrol dan seterusnya. Pemerintah ikut andil. Tapi saat ini perhimpunan tersebut tinggal nama dan hanya pegawai yang menempati kantor (Saya pernah diajak teman ke tempat itu. Ada seperti gudang di bagian depan kantor. Sangat sepi. Padahal kata teman saya yang merupakan seorang pengrajin batik itu, bahan-bahan membatik dijual lebih murah dari pasaran). Beliau melanjutkan, saat ini bahan-bahan membatik itu dikuasai pengusaha etnis tertentu. Sehingga mereka memainkan harga dengan seenaknya. Kadang bahan-bahan tersebut ditimbun hingga terjadi kelangkaan. Saat itulah mereka menjualnya dengan harga melangit. Misalnya harga bahan campuran membuat malam awalnya sekitar Rp 13.000 menjadi Rp 36.000. Belum lagi bahan bakar minyak bumi yang harus digunakan untuk menjaga agar malam tetap cair.

Beliau melanjutkan bahwa saat ini antara produksi dan pemasaran tidak seimbang. Mereka hanya mengandalkan 1 showroom tersebut. Mereka bekerjasama dengan travel agent saja. Jika ada yang turis mancanegara, akan dibawa ke showroom tersebut. Saya sangat mengerti karena harga batik tulis harganya lebih mahal dari hasil mesin. Belum lagi jika menggunakan pewarna alam, warna-warna yang dihasilkan dari dedaunan maupun beragam jenis pohon yang aman bagi kulit. Harganya bisa 5 kali lipat atau lebih dari harga dengan pewarna sintetis. Biasanya peminat batik berkualitas begini adalah orang-orang luar negeri. Daya beli masyarakat Indonesia belum mampu.

Saya tidak mengetahui bagaimana strategi marketingnya. Karena saya pikir dengan menggunakan usia yang cukup tua tersebut, harusnya memberi efek pada jumlah penjualan yang tinggi. Entahlah.

Perusahaan batik ini memiliki idealisme bahwa yang namanya batik adalah semua proses produksinya dikerjakan dengan tangan dan walaupun seandainya nanti tersisa hanya 5 orang, mereka akan tetap produksi untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Lalu saya tambahkan “asli”. Kebudayaan asli Indonesia. Karena jika sudah menggunakan mesin, sudah bukan batik asli lagi.

Pulang dari sana hati saya menangis. Apa artinya pengakuan UNESCO sebagai warisan bangsa Indonesia, jika kita sendiri tidak mampu melindungi pengrajin batik-pengrajin batik kita. Jika mereka tutup, maka batik akan berhenti diproduksi dan akan hilang. Belum lagi jumlah tenaga kerja yang harusnya bisa mereka serap. Perusahaan sebelumnya juga mengalami hal yang sama, saya pikir. Karena alasan mereka menolak saya adalah saat ini mereka lebih pada usaha workshop pembuatan batik. Ya Rabbi, sesak sekali dada ini. Apa yang bisa saya lakukan???

11 thoughts on “Kisah Sedih Pengusaha Batik di Yogyakarta

    • Tersebar. Klo di Jogja: batik Ardhi di jalan Magelang. Klo ke sini proposalnya dimasukkan jauh-jauh hari. Batik Plenthong saya lupa di jalan apa, tapi dekat jalan Jogokaryan, Jogja Selatan. Selebihnya tersebar di Bantul. Nah, klo yang di Bantul saya lupa nama daerahnya karena diantar teman.

      Klo di Solo, coba ke batik Keris dan Danar Hadi. Googling aja alamatnya.

      • Kalau mau beli batik tulis dari tempat tersebut bagaimana ya? Boleh dong minta alamat pengrajin batik tersebut. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s