Sekolah Untuk Si Bungsu

Tahun ini, adik bungsu saya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Dari jauh hari saya sudah mengusulkan agar si adik melanjutkan di Yogyakarta saja. Tujuannya agar wawasannya terbuka, mengenal dunia di luar Jambi. Agar tidak seperti katak dalam tempurung. Setelah dibujuk oleh kami sekeluarga, alhamdulillah dia bersedia. Tuuuh, orangnya sedang tertidur lelap setelah di bekam untuk pertama kalinya tadi.

Awalnya saya ingin memasukkan dia ke pesantren penghafal Qur’an. Namun khawatir dia terkejut karena selama ini dia belajar di sekolah umum. Semoga, suatu saat ketika Alloh telah mengizinkan, dia akan menjadi seorang penghafal Qur’an yang memiliki kompetensi akademik. Akhirnya saya putuskan untuk menyekolahkannya di SMAIT Abu Bakar Yogyakarta. Saya tertarik karena sekolah ini memiliki program boarding school. Para siswa yang mengikuti progaram ini akan tinggal di asrama. Di sana mereka akan dibiasakan untuk sholat tahajud, mengaji, bicara bahasa arab dan inggris dan sebagainya. Selain itu, dengan berpisah dari keluarga, saya berharap Adik bisa hidup mandiri. Maklum, selama ini dia selalu berada dalam bayang-bayang Bunda yang memanjakannya.

Bersiap masuk asrama

Tadi siang saya mengantar adik untuk daftar ulang. Subhanalloh, saya suka dengan metode belajarnya. Sekolah ini memiliki ruang belajar berdasarkan jenis pelajarannya. Mereka memiliki ruang sains, ruang bahasa dan sebagainya. Siswa akan berpindah kelas sesuai dengan mata pelajarannya. Jika saatnya belajar bahasa inggris, mereka akan masuk ke ruang bahasa, jika mereka belajar IPA maka mereka akan berpindah ke ruang sains. Ini bagus menurut saya. Karena memberikan siswa suasana baru dan proses berpindah tersebut dapat menghilangkan rasa kantuk.

Sekolah ini tidak memiliki banyak murid tapi insya Alloh tidak mengurangi kualitasnya. Ini terbukti beragam tropi dan mendali penghargaan yang saya lihat di kantor administrasinya.

Salah satu faktor muridnya sedikit barangkali karena biaya pendidikannya yang tergolong mahal. Mungkin mahal itu karena orang tua harus membayar makan siang yang diberikan kepada siswa karena program pendidikan di sini adalah Full day school artinya pelajaran dilakukan dari pagi hingga sore hari. Sedangkan program boarding school, pelajaran di sambung setelah maghrib hingga pukul 22.00 malam.

Saya berharap setelah lulus dari sekolah ini, si adik memiliki tauhid yang kokoh, bisa sholat secara baik dan benar, mengaji dengan makhrojul khuruf yang benar, memiliki hafalan setidaknya 2 juz, memiliki pemahaman Islam yang baik dan memiliki kompetensi akademik sesuai dengan potensi yang dia miliki.

Dan peran sebagai orang tua pun mulai saya lakoni. Bismillah.

Kota gudeg lewat tengah malam.

Di kala hati dipenuhi sejuta harap.

2 thoughts on “Sekolah Untuk Si Bungsu

  1. asslkum,,
    salam kenal ya ukhti..
    ana dari lampung.
    ana baca2 blog ukhti nah ketemu bacain ttg si bungsu he
    gmn kbr si bungsu ukhti di SMA IT ABU BAKAR tersebut?

    gmn dg kemampuan belajarnya baik dari bljr agama, bahasa inggris dan bahasa arab nya? ana juga rencananya mau sekolahin adik d SMA itu..
    oh ya biaya dftar ulang waktu itu brp ya ukhti serta perbulannya brp baik untuk asrama maupun SPPnya?
    mohon informasinya ya ukhti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s