Memaknai Kembali Proses Belajar

https://i2.wp.com/stat.kompasiana.com/files/2010/07/studyhard1.jpg

lifestyle.kompasiana.com

“Saya salah strategi, Mba. Dosen yang saya pilih termasuk yang sulit kasi nilai. Beberapa teman yang mengulang mata kuliah itu tapi dengan dosen yang berbeda dapat nilai bagus-bagus. Masa nilai saya sama dengan teman-teman yang ga bisa mata kuliah itu. Saya kan mengajar mata kuliah itu di tempat saya mengajar. Lha, dianya aja tesisnya dibuatin suaminya, kok. Kemaren pas siding tidak ada pertanyaan yang diajukan penguji karena materinya sangat mudah. Bahkan pembimbinganya tidur pas sidang. Terus Mba, kemaren ditanya teman kantor nilai sidang tesis saya. Duh, saya rasa gimana gitu, karena saya cuma dapat B.” Curhat teman kos saya.

”Tenang aja, Bu. Kualitas kita tidak ditunjukkan oleh nilai,” ujar saya coba menanggapi.

“Tapi kan orang-orang melihatnya dari nilai kita.” Nah, kalau jawabannya ini, saya tidak bisa berkata-kata lagi.

Ini nih sumber kesengsaraan: penilaian orang lain. Kalau sudah begini, belajar pun dijalani dengan orientasi mendapatkan nilai. Bahkan ada yang nyata-nyata bilang ke saya, Cuma ngejar ijazah biar bisa naik jabatan.

Di New Zerland, penilaian diberikan berdasarkan perubahan pemahaman murid. Misalnya seorang anak yang telah memiliki modal pemahaman 8, lalu meningkat menjadi 10 (peningkatan 2) tidak menjadikannya lebih baik dari anak yang bermodal 0 kemudian pemahamannya meningkat hingga level 5 (peningkatan 5). Sementara di negeri kita, banyak nilai diberikan berdasarkan nilai pada lembar jawaban ujian. Padahal bisa jadi ketika ujian, pelajar tersebut sedang sakit atau menggunakan teknologi untuk memudahkan mendapat jawaban ketika ujian close book.

Kenapa kita tidak menikmati proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu? Sekolah atau kuliah merupakan pintu gerbang untuk memasuki dunia pengetahuan tertentu. Aktifitas belajar sesungguhnya adalah setelah keluar dari tempat kita belajar. Bagaimana menerapkan dan mengembangkan dasar-dasar yang kita peroleh dari tempat kita menuntut ilmu.

Ini sudah menjadi budaya di negeri kita. Budaya yang harus diganti. Mulainya pasti dari diri sendiri. Karena budaya itu merupakan sistem sosial dan sistem sosial dibentuk dan dijalankan oleh individu-individu yang ada di dalam sistem tersebut. Individu yang menjadi pengajar menerapkan sistem penilaian holistic, artinya tidak hanya menggunakan nilai “hitam di atas putih” alias nilai ujian dan individu yang menjadi pelajar perlu menyadari bahwa kita belajar untuk bekal hidup di dunia dan akhirat, bukan sekedar nilai “hitam di atas putih” alias ijazah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s