Link Akses Jurnal Gratis

Selesai kuliah lalu kembali ke tempat kerja membuat saya sedikit bersedih. Diantaranya adalah hilangnya nikmat kemudahan mengakses gratis jurnal-jurnal berbayar. Maklum, belum ada fasilitas itu di tempat saya bekerja saat ini. Tapi alhamdulillah, ada saja cara Alloh menunjukkan dimana bisa menemukan makalah-makalah gratisan selain di scholar.google.com.

1. http://gen.lib.rus.ec/

Tidak pakai nunggu.

2. http://www.ohiolink.edu/etd/

Link berisi hasil penelitian tesis dan disertasi dari banyak kampus di  Ohio, United States.

3. http://e-resources.pnri.go.id/

Akses jurnal berbayar secara gratis melalui perpustakaan nasional RI. Ini dibayar pakai uang rakyat, lho. Jadi sayang jika tidak dimanfaatkan secara maksimal. Daftar dulu sebelum mengakses ya. Gratis, kok 🙂

4. http://www.ppml.url.tw/EPPM_Journal/

Jurnal khusus engineering, project, and production management. Ada nyambungnya dengan bidang saya sistem informasi.

Jika punya link lain, silahkan ditambahkan. Sharing is caring, right? 🙂

Memaknai Kembali Proses Belajar

https://i2.wp.com/stat.kompasiana.com/files/2010/07/studyhard1.jpg

lifestyle.kompasiana.com

“Saya salah strategi, Mba. Dosen yang saya pilih termasuk yang sulit kasi nilai. Beberapa teman yang mengulang mata kuliah itu tapi dengan dosen yang berbeda dapat nilai bagus-bagus. Masa nilai saya sama dengan teman-teman yang ga bisa mata kuliah itu. Saya kan mengajar mata kuliah itu di tempat saya mengajar. Lha, dianya aja tesisnya dibuatin suaminya, kok. Kemaren pas siding tidak ada pertanyaan yang diajukan penguji karena materinya sangat mudah. Bahkan pembimbinganya tidur pas sidang. Terus Mba, kemaren ditanya teman kantor nilai sidang tesis saya. Duh, saya rasa gimana gitu, karena saya cuma dapat B.” Curhat teman kos saya.

”Tenang aja, Bu. Kualitas kita tidak ditunjukkan oleh nilai,” ujar saya coba menanggapi.

“Tapi kan orang-orang melihatnya dari nilai kita.” Nah, kalau jawabannya ini, saya tidak bisa berkata-kata lagi.

Ini nih sumber kesengsaraan: penilaian orang lain. Kalau sudah begini, belajar pun dijalani dengan orientasi mendapatkan nilai. Bahkan ada yang nyata-nyata bilang ke saya, Cuma ngejar ijazah biar bisa naik jabatan.

Di New Zerland, penilaian diberikan berdasarkan perubahan pemahaman murid. Misalnya seorang anak yang telah memiliki modal pemahaman 8, lalu meningkat menjadi 10 (peningkatan 2) tidak menjadikannya lebih baik dari anak yang bermodal 0 kemudian pemahamannya meningkat hingga level 5 (peningkatan 5). Sementara di negeri kita, banyak nilai diberikan berdasarkan nilai pada lembar jawaban ujian. Padahal bisa jadi ketika ujian, pelajar tersebut sedang sakit atau menggunakan teknologi untuk memudahkan mendapat jawaban ketika ujian close book.

Kenapa kita tidak menikmati proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu? Sekolah atau kuliah merupakan pintu gerbang untuk memasuki dunia pengetahuan tertentu. Aktifitas belajar sesungguhnya adalah setelah keluar dari tempat kita belajar. Bagaimana menerapkan dan mengembangkan dasar-dasar yang kita peroleh dari tempat kita menuntut ilmu.

Ini sudah menjadi budaya di negeri kita. Budaya yang harus diganti. Mulainya pasti dari diri sendiri. Karena budaya itu merupakan sistem sosial dan sistem sosial dibentuk dan dijalankan oleh individu-individu yang ada di dalam sistem tersebut. Individu yang menjadi pengajar menerapkan sistem penilaian holistic, artinya tidak hanya menggunakan nilai “hitam di atas putih” alias nilai ujian dan individu yang menjadi pelajar perlu menyadari bahwa kita belajar untuk bekal hidup di dunia dan akhirat, bukan sekedar nilai “hitam di atas putih” alias ijazah.

Sekolah Untuk Si Bungsu

Tahun ini, adik bungsu saya lulus sekolah menengah pertama (SMP). Dari jauh hari saya sudah mengusulkan agar si adik melanjutkan di Yogyakarta saja. Tujuannya agar wawasannya terbuka, mengenal dunia di luar Jambi. Agar tidak seperti katak dalam tempurung. Setelah dibujuk oleh kami sekeluarga, alhamdulillah dia bersedia. Tuuuh, orangnya sedang tertidur lelap setelah di bekam untuk pertama kalinya tadi.

Awalnya saya ingin memasukkan dia ke pesantren penghafal Qur’an. Namun khawatir dia terkejut karena selama ini dia belajar di sekolah umum. Semoga, suatu saat ketika Alloh telah mengizinkan, dia akan menjadi seorang penghafal Qur’an yang memiliki kompetensi akademik. Akhirnya saya putuskan untuk menyekolahkannya di SMAIT Abu Bakar Yogyakarta. Saya tertarik karena sekolah ini memiliki program boarding school. Para siswa yang mengikuti progaram ini akan tinggal di asrama. Di sana mereka akan dibiasakan untuk sholat tahajud, mengaji, bicara bahasa arab dan inggris dan sebagainya. Selain itu, dengan berpisah dari keluarga, saya berharap Adik bisa hidup mandiri. Maklum, selama ini dia selalu berada dalam bayang-bayang Bunda yang memanjakannya.

Bersiap masuk asrama

Tadi siang saya mengantar adik untuk daftar ulang. Subhanalloh, saya suka dengan metode belajarnya. Sekolah ini memiliki ruang belajar berdasarkan jenis pelajarannya. Mereka memiliki ruang sains, ruang bahasa dan sebagainya. Siswa akan berpindah kelas sesuai dengan mata pelajarannya. Jika saatnya belajar bahasa inggris, mereka akan masuk ke ruang bahasa, jika mereka belajar IPA maka mereka akan berpindah ke ruang sains. Ini bagus menurut saya. Karena memberikan siswa suasana baru dan proses berpindah tersebut dapat menghilangkan rasa kantuk.

Sekolah ini tidak memiliki banyak murid tapi insya Alloh tidak mengurangi kualitasnya. Ini terbukti beragam tropi dan mendali penghargaan yang saya lihat di kantor administrasinya.

Salah satu faktor muridnya sedikit barangkali karena biaya pendidikannya yang tergolong mahal. Mungkin mahal itu karena orang tua harus membayar makan siang yang diberikan kepada siswa karena program pendidikan di sini adalah Full day school artinya pelajaran dilakukan dari pagi hingga sore hari. Sedangkan program boarding school, pelajaran di sambung setelah maghrib hingga pukul 22.00 malam.

Saya berharap setelah lulus dari sekolah ini, si adik memiliki tauhid yang kokoh, bisa sholat secara baik dan benar, mengaji dengan makhrojul khuruf yang benar, memiliki hafalan setidaknya 2 juz, memiliki pemahaman Islam yang baik dan memiliki kompetensi akademik sesuai dengan potensi yang dia miliki.

Dan peran sebagai orang tua pun mulai saya lakoni. Bismillah.

Kota gudeg lewat tengah malam.

Di kala hati dipenuhi sejuta harap.

Nilai untuk Mahasiswa

Tidak cukup dengan modal pintar. Seorang mahasiswa harus juga memiliki etika. Dan etika ini harus masuk ke dalam poin penilaian seorang mahasiswa dalam suatu mata kuliah, karena pendidikan bertujuan membentuk karakter anak bangsa. Tidak sekedar pada mata kuliah tertentu, misalnya kuliah etika dan profesi.

“Ah, itu tidak berlaku bagi mahasiswa. Mereka kan sudah besar, bisa membedakan mana yang benar dan yang salah.”

Tunggu dulu, Saudara. Masih ada lho, mahasiswa yang bicara “lo, gue” dengan dosennya. Walau kemudian tidak dilakukannya kembali setelah diluruskan. Belum lagi budaya mencontek, berbohong (titip absen, plagiat) dan sebagainya yang masih menjamur di kalangan mahasiswa.

Saya pernah mengajar di salah satu PTS di Bandung. Suatu ketika, saya bermaksud mengumumkan di dalam kelas jika tugas yang dikumpulkan belum memenuhi kriteria yang ditetapkan, maka saya menawarkan untuk melakukan perbaikan. Belum selesai saya bicara, salah seorang mahasiswa langsung marah-marah. Katanya saya menyindir dia karena kelompok dia yang baru selesai presentasi. Ow, saya coba menjelaskan tapi sudah dipotongnya lagi.

“Kamu dengarkan dulu. Saya belum selesai menjelaskan, tapi sudah kamu potong. Ada etika dalam bicara. Ada etika dalam mendengarkan dan ada etika dalam berdiskusi,” ujar saya.

“Tapi dari arah pembicaraan Ibu, saya bisa menangkap. Ibu menyindir saya. Ibu menyampaikan untuk semua yang ada di kelas, kan? Berarti termasuk saya.” Heeeh??! Bingung nih anak 🙂

“Iya, saya sampaikan buat semua… Saya bukan tipe orang yang suka menyindir. Saya akan menyampaikan sesuatu secara langsung.”

Menurut bagian Tata Usaha (TU) kampus tersebut, mahasiswa ini memang terkenal kritis. Saking kritisnya, terkadang tidak pada tempatnya. Jika berkaitan dengan haknya, dia akan habis-habisan menuntut. Tapi dia lalai dengan kewajibannya. Misalnya telat membayar SPP. Bahkan orang TU tersebut berkata, “untuk dia sih, beri nilai B saja. Jangan sampai A.” Tuuh, sayang sekali. Padahal dia seorang mahasiswa yang pintar.

 

Mengajar Kelas Ekstensi

media.thenewstribune.com

Ini cerita tentang pengalaman pertama (dan mungkin terakhir) saya mengajar kelas ekstensi di salah satu PTS di Bandung.

Yang namanya kelas ekstensi sudah pasti pesertanya adalah para pekerja. Masuk kelas di malam hari pada saat fisik sudah lelah, lebih memilih kerja daripada masuk kelas atau mayoritas mencari ijazah saja daripada ilmu merupakan beberapa karakter dari kelas ekstensi.

Pada pertemuan terakhir sebelum pelaksanaan UTS, saya sudah membahas soal yang mirip dengan soal UTS. UTS dilakukan secara open book. Soal yang bersifat teori ada di slide yang pernah saya berikan, namun perlu penambahan dari referensi lain. Misalnya perbedaan Windows dengan Linux. Di slide hanya saya berikan 2, maka di soal saya minta jelaskan 3. Soal yang hitungan ada yang persis dengan latihan -hanya angkanya yang diubah- dan soal yang sedikit diubah. Misalnya saat latihan diketahui nilai a dan b, tentukan nilai c dengan rumus a+b = c, maka saat UTS yang saya tanyakan nilai a, jika b dan c diketahui. Hasil UTS: sangat tidak memuaskan.

Nah, karena nilai UTS pada jelek, saya adakan perbaikan. Soalnya 90% sama dengan UTS dan open book juga. Hanya angka-angkanya saja yang dibedakan. Hasilnya? Hampir sama, jelek. Namun ada juga mahasiswa yang nilainya meningkat. Ada mahasiswa yang protes dengan perbaikan UTS. Dia tidak bisa mengisi karena pada saat diterangkan dia tidak hadir. WHAT??!!! Salah siapa coba? Kok, tidak usaha belajar? Fiuh! Hanya bisa ngomong dalam hati. 😦

Belum lagi dengan tingkat kehadiran. Sebenarnya saya adalah orang yang tidak terlalu mempersalahkan tentang kehadiran. Karena kita bisa belajar dimana saja. Yang penting paham. Namun karena ini kelas para pekerja, maka saya harus menghargai mereka yang tetap hadir di kelas. Ada peristiwa lucu. Beberapa hari sebelum pelaksanan UTS, ada mahasiswa yang mengirimkan SMS kepada saya. Isinya meminta agar pelaksanaan UTS diundur karena dia ada pekerjaan hingga pekan depan. WHEW!!!

Untuk pemberian nilai, saya sudah menjelaskan kepada mahasiswa poin-poin apa saja dan besarnya % nilai dari masing-masing poin. Karena hasil UTS tidak terlalu baik, akhirnya saya memutuskan untuk memberi UAS berupa pembuatan makalah. Tujuannya agar ada peluang bagi saya untuk menaikkan nilai mereka. Karena penilaian makalah bersifat kualitatif. Ini saya lakukan karena ingat kata ‘kasihan’ yang dititipkan  bagian akademik PTS tersebut kepada saya ketika akan mengajar. Kata ini yang kemudian membuat saya harus melibatkan rasa empati yang besar ketika memberi nilai. Harus mempertimbangkan semangat mereka untuk kuliah (apa pun tujuannya), memikirkan uang yang harus mereka sisihkan dari nafkah untuk keluarga, keinginan untuk meningkatkan taraf hidup (pastinya) dan lain-lain.

Pengalaman berharga. 🙂