Surat untuk Anak-anakku

Assalammu’alaykum wr wb.

Apa kabarmu duhai anak-anak Ummi yang sholih-sholihah? Ummi yakin kalian sedang berada dalam kehangatan dekapan Zat yang Maha Penyayang.

Nak, belakangan ini Ummi semakin merindukan kalian. Betapa ingin Ummi segera berjumpa kalian. Ingin sekali rasanya Ummi menimang, mengecup kening, memandikan, membuatkan sarapan, sholat berjama’ah bersama kalian, mengajari kalian Al-Qur’an, membacakan kalian kisah Rasullulloh dan para sahabat, meletakkan tangan Ummi di ubun-ubun kepala kalian sambil mendo’akan kalian…

Ummi berharap kalianpun merindukan Ummi. Bersabarlah ya, Nak. Ummi sedang mempersiapkan diri sehingga pantas untuk melahirkan kalian dan menjadi pendamping hidup Abi kalian. Insya Alloh Abi kalian adalah seorang hamba yang sangat mencintai Alloh & Allohpun mencintainya, juga membawa kita kepada cinta Alloh. Abi kalian adalah seseorang yang akan memberikan benih pada rahim Ummi sehingga melahirkan kalian, anak-anak Ummi , yang sholih & shollihah. Yang menjadi ilmuwan & Pengusaha. Di atas itu semua yang menjadikan kalian hafidz/hafizhoh (penghafal qur’an).

“Kenapa harus menjadi penghafal qur’an, Mi?” mungkin kalian ingin menanyakan itu. Nak…, para penghafal Qur’an adalah orang-orang pilihan untuk menjaga kalimat Alloh di muka bumi ini. Insya Alloh, Alloh pasti juga menjaganya. Belum lagi keistimewaan yang akan kalian terima di hari akhir kelak. Ummi ingin kalian selamat menjalani hidup di dunia ini, hingga kita semua berkumpul kembali di jannah-Nya.

Nak, saat ini Alloh menunjukkan bagaimana penjagaannya terhadap seorang penghafal Qur’an. Ada sebuah Negara bernama Mesir di dunia ini. Pemimpinnya bernama Muhammad Mursi dipaksa menyerahkan posisinya sebagai presiden oleh orang-orang yang benci Islam. Beliau seorang yang shalih. Selalu berprinsip Alloh ghoyatuna, Muhammad qudwahtuna, Al Qur’an dusturana, jihad sabiluna, dan syahid asma amanina. Beliau seorang penghafal Qur’an, Nak. Lihatlah bagaimana Alloh menjaga-Nya.

Merinding Ummi mendengarnya. Menangis tiada henti Ummi meihatnya. Siapa yang menggerakan jutaan manusia itu untuk menjadi pelindung & pembelanya jika bukan Alloh, Nak. Ummi jadi ingat sebuah hadits qudsi,

Rasululloh saw, bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: ‘sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia. Para penghuni langitpun mencintainya, kemudian penghuni bumipun mencintainya (Shahih Muslim No. 4772).

Tidak, sama sekali Ummi tidak mengharapkan kalian menjadi orang terkenal dengan banyak manusia yang mengagumi kalian. Cukup jadilah hamba yang dikenal oleh pencipta kalian. Jadilah para pembela Islam hingga kalian menghadap Alloh dengan gelar syuhada. Ummi ingin ketika kalian syahid, bergetar ‘Arsy Alloh, ribuan malaikat mengantarkan jenazah kalian ke liang lahat, dan bersuka cita penduduk langit menyambut kepulangan ruh kalian. Hanya itu, Nak.

Ah, sedikit lega perasaan Ummi walaupun belum bisa menatap wajah kalian secara langsung. Bersabar ya, Nak. Hingga Alloh berkenan mempertemukan kita. Semoga kita sekeluarga berkumpul kembali di surga tertinggi milik-Nya. Surga Firdaus, ya Nak.

Wassalammu’alaykum wr wb.

Kota Budaya,  12 Ramadhan 1433 H (20 Juli 2013)

Ummi yang merindu

Advertisements

Nyeri Haid (Dismenore)

Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi.

Penyebab

Disebut dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya (normal karena peluruhan dinding rahim) dan dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan.
Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore. Penyebab dari dismenore sekunder adalah: endometriosis, fibroid, adenomiosis, peradangan tuba falopii, perlengketan abnormal antara organ di dalam perut, dan pemakaian IUD.

Faktor Risiko

Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Sedangkan dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun. Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah:
-rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
-kurang berolah raga
-stres psikis atau stres sosial.

Gejala dan Tanda
Nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.

Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.

Cara Mengurangi Rasa Nyeri
Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan.

Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.

Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:

  • istirahat yang cukup
  • olah raga yang teratur (terutama berjalan)
  • pemijatan
  • yoga
  • orgasme pada aktivitas seksual
  • perbanyak asupan cairan untuk menghindari dehidrasi. Kekurangan cairan akan membuat kram menstruasi semakin terasa nyeri. Usahakan untuk minum air hangat untuk meningkatkan aliran darah ke daerah panggul dan membantu relaksasi otot panggul.
  • jahe adalah ramuan hebal yang memiliki manfaat kesehatan luar biasa. Termasuk untuk mengatasi kram akibat menstruasi. Untuk membuat ramuan jahe, rebus beberapa potong jahe yang telah dimemarkan dalam air. Minumlah air jahe dalam keadaan hangat.
  • jika perut terasa sangat nyeri, tempatkan handuk hangat (kompres). Ini cara yang cukup simpel menghilangkan nyeri untuk sementara waktu.
  • hindari minum minuman yang mengandung kafein. Baik itu kopi atau minuman berenergi karena bisa memicu iritasi pada usus halus.
  • mengonsumsi teh beraroma mint juga bisa membantu meredakan nyeri. Akan lebih baik jika diminum dalam keadaan hangat.
  • lakukan peregangan pada tangan dan kaki pada pagi hari. Ini membantu melancarkan peredaran darah dan mengurangi nyeri kram akibat menstruasi.

Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya telah teratasi.

Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroksiprogesteron. Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore. Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).

Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.

Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya.

 

Sumber:

http://www.blogdokter.net/2007/03/09/dismenore-nyeri-haid/, diakses 2 Januari 2011

http://kosmo.vivanews.com/news/read/196678-cara-mudah-hilangkan-nyeri-haid, diakses 2 Januari 2011

Adab Terhadap Tetangga

dakwatuna.com – Tetangga pada zaman kita sekarang ini, memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap tetangga di sebelahnya. Karena saling berdekatannya rumah-rumah dan berkumpulnya mereka dalam flat-flat, kondominium atau apartemen.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, empat hal termasuk kebahagiaan, di antaranya tetangga yang baik. Beliau juga menyebutkan empat hal termasuk kesengsaraan, di antaranya tetangga yang jahat. Karena bahayanya tetangga yang jahat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah daripadanya dengan berdoa:

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang jahat di rumah tempat tinggal, karena tetangga nomaden akan pindah”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umat Islam untuk berlindung pula daripadanya dengan mengatakan:

“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang jahat di rumah tempat tinggal, karena tetangga yang nomaden akan berpindah daripadamu”.

Dalam buku kecil ini, tentu tak memadai untuk menjelaskan secara rinci tentang pengaruh tetangga jahat terhadap suami istri dan anak-anak, berbagai gangguan menyakitkan daripadanya, serta kesusahan hidup bersebelahan dengannya. Akan tetapi dengan mempraktekkan hadits-hadits yang telah lalu (dalam masalah bertetangga) sudah cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran.

Mungkin di antara jalan pemecahannya yang kongkret, yaitu seperti yang dipraktekkan oleh sebagian orang dengan menyewakan rumah yang bersebelahan dengan tetangga jahat tersebut kepada orang-orang yang sekeluarga dengan mereka, meski untuk itu harus merugi dari sisi materi, karena sesungguhnya tetangga yang baik tak bisa dihargai dengan materi, berapa pun besarnya.

Memuliakan Tetangga

Berbuat baik kepada tetangga juga menjadi perhatian serius dalam ajaran Islam. Perhatikan firman Allah Taala:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“…Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,.” (An-Nisa:36)

Nabi SAW dalam beberapa hadits mengingatkan kita agar selalu berbuat baik kepada tetangga, di antaranya adalah:

Ibnu Umar dan Aisyah ra berkata keduanya, “Jibril selalu menasihatiku untuk berlaku dermawan terhadap para tetangga, hingga rasanya aku ingin memasukkan tetangga-tetangga tersebut ke dalam kelompok ahli waris seorang muslim”. (H.R. Bukhari-Muslim)

Abu Dzarr ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hai Abu Dzarr jika engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, dan perhatikan (bagilah) tetanggamu (H.R. Muslim)

Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Ditanya: Siapa ya Rasulullah? Jawab Nabi, “Ialah orang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya” (H.R. Bukhari-Muslim)

Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah memuliakan tetangganya. (H.R. Bukhari-Muslim)

Hak-hak ketetanggaan tidak ditujukan bagi tetangga kalangan muslim saja. Tentu saja tetangga yang muslim mempunyai hak tambahan lain lagi yaitu juga sebagai saudara (ukhuwah Islamiyah). Tetapi dalam hubungan dengan hak-hak ketetanggaan semuanya sejajar:

Berbuat baik dan memuliakan tetangga adalah pilar terciptanya kehidupan sosial yang harmonis. Apabila seluruh kaum muslimin menerapkan perintah Allah Taala dan Nabi SAW ini, sudah barang tentu tidak akan pernah terjadi kerusuhan, tawuran ataupun konflik di kampung-kampung dan di desa-desa.

Beberapa kiat praktis memuliakan tetangga adalah:

1. Sering bertegur sapa, tanyailah keadaan kesehatan mereka.

2. Berikanlah kepada mereka sebagian makanan apalagi jika tetangga mengetahuinya. Jikalau tidak dapat memberi, maka sedapat mungkin tetangga tidak tahu apa yang kita miliki karena itu dapat membuat susah hatinya. Misalnya kita membeli makanan dan tidak memberinya, namun kita menceritakan bagaimana enaknya makanan tarsebut atau bahkan kita makan di hadapan tetangga. Ini benar-benar harus dihindari.

3. Berikan oleh-oleh buat mereka, apabila kita bepergian jauh.

4. Bantulah mereka apabila sedang mengalami musibah ataupun menyelenggarakan hajatan.

5. Berikanlah anak-anak mereka sesuatu yang menyenangkan, berupa makanan ataupun mainan.

6. Sesekali undanglah mereka makan bersama di rumah.

7. Berikanlah hadiah kaset, buku bacaan yang mendorong mereka untuk lebih memahami Islam.

8. Ajaklah mereka sesekali ke dalam suatu acara pengajian atau majelis ta’lim, atau pergilah bersama memenuhi suatu undangan walimah (apabila mereka juga diundang)

Memuliakan Teman

Memuliakan teman berarti menjaga dan menunaikan hak-hak mereka. Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam Tarbiyatul ‘aulad fil Islam menyebutkan bahwa hak-hak tersebut adalah:

1. Mengucapkan salam ketika bertemu.

Rasulullah saw. yaitu, “Kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian”. (H.R. Bukhari-Muslim)

2. Menjenguk Teman Ketika Sakit

Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jenguklah orang yang sakit; beri makanlah orang yang lapar dan lepaskanlah orang yang dipenjara”.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima; Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”.

3. Mendoakan Ketika Bersin

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu bersin, hendaklah ia mengucapkan, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan saudaranya atau temannya hendaknya mengucapkan untuknya, Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu)’ Apabila teman atau saudaranya tersebut mengatakan, Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu), kepadanya, maka hendaklah ia mengucapkan, Yahdikumullah wa yushlihu balakum.

4. Menziarahi karena Allah

Ibnu Majah dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menjenguk orang sakit atau berziarah kepada seorang saudara di jalan Allah, maka ia akan diseru oleh seorang penyeru “Hendaklah engkau berbuat baik, dan baiklah perjalananmu, (karenanya) engkau akan menempati suatu tempat di surga”.

5. Menolong ketika kesempitan

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat zhalim kepadanya dan tidak boleh menyia-nyiakannya (membiarkan, tidak menolongnya). Barang siapa menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan menolong kebutuhannya, barang siapa menyingkirkan suatu kesusahan dari seorang muslim, niscaya Allah akan menyingkirkan darinya suatu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat”

6. Memenuhi undangannya apabila ia mengundang

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra , bahwa Rasulullah saw. bersabda; Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima; Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”

7. Memberikan ucapan selamat

Ad-Dailami meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, “Barang siapa bertemu saudaranya ketika bubar dari shalat Jum’at, maka hendaklah ia mengucapkan “Semoga (Allah) menerima (amal dan doa) kami dan kamu.

8. Saling memberi hadiah

At-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Ausath dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”

Ad-Dailami meriwayatkan dari Anas secara marfu’, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena hal itu dapat mewariskan kecintaan dan menghilangkan kedengkian-kedengkian”

Imam Malik di dalam Al-Muwaththa’ meriwayatkan, “Saling bermaaf-maafkanlah, niscaya kedengkian akan hilang. Dan saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling mencintai dan hilanglah permusuhan.”

Wasiat Tentang Tetangga

عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ما زال جبريل يوصيني بالجار حتى ظننت أنه سيورثه. رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه الترمذي

Dari Aisyah ra, dari Nabi Muhammad saw bersabda, “Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga sehingga aku menduga bahwa ia akan memberikan warisan kepadanya.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Penjelasan:

الوصاءة Wawu dibaca fathah, bersama dengan shad tanpa titik dan dibaca panjang, lalu hamzah sesudahnya, adalah bentuk kata lain dari الوصية wasiat, demikian juga dengan الوصاية mengganti ya’ pada posisi hamzah

يوصيني بالجار Berwasiat kepadaku tentang tetangga, tanpa dibedakan kafir atau muslim, ahli ibadah atau ahli maksiat, setia atau memusuhi, kenal baik atau masing asing, menguntungkan atau merugikan, keluarga dekat atau orang lain, dekat rumah atau jauh.

حتى ظننت أنه سيورثه Sehingga aku menyangka bahwa ia akan mewarisi, ia menyuruhku -berdasarkan perintah Allah-, bahwa tetangga itu mewarisi tetangga lainnya, dengan menjadikannya bersama-sama dalam harta, sesuai dengan bagian yang ditentukan dalam pembagian waris.

Imam Bukhari meriwayatkan juga hadits ini dari Jabir ra, dari Rasulullah saw dengan kalimat:

ما زال جبريل يوصيني بالجار حتى ظننت أنه يجعل له ميراثاً

Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga sehingga aku menyangka ia menjadikan warisan harta tertentu baginya.

At-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra dari Nabi Muhammad saw bersabda:

الجيران ثلاثة: جار له حق وهو المشرك: له حق الجوار، وجار له حقان وهو المسلم: له حق الجوار وحق الإسلام، وجار له ثلاثة حقوق: جار مسلم له رحم له حق الجوار والإسلام والرحم

Tetangga itu ada tiga macam: Tetangga yang hanya memiliki satu hak, yaitu orang musyrik, ia hanya memiliki hak tetangga. Tetangga yang memiliki dua hak, yaitu seorang muslim: ia memiliki hak tetangga dan hak Islam. Dan tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga, muslim memiliki hubungan kerabat; ia memiliki hak tetangga, hak Islam dan hak silaturahim.

Aisyah ra, meriwayatkan tentang batasan tetangga, yaitu empat puluh rumah dari semua arah.

At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad dhaif/lemah dari Ka’ab bin Malik ra, dari Nabi Muhammad saw:

ألا إن أَربَعينَ دَار جار

“Ingatlah bahwa empat puluh rumah itu adalah tetangga”

Pelaksanaan wasiat kepada tetangga ini adalah dengan berbuat baik semaksimal mungkin, sesuai kemampuan, seperti memberikan hadiah, memberi salam, berwajah lepas/cerah ketika berjumpa, mencari tahu jika tidak kelihatan, membantunya ketika memerlukan bantuan, mencegah berbagai macam gangguan, material maupun inmaterial, menghendaki kebaikannya, memberikan nasihat terbaik, mendoakannya semoga mendapatkan hidayah Allah, bermuamalah dengan santun, menutupi kekurangan dan kesalahannya dari orang lain, mencegahnya berbuat salah dengan santun –jika masih memungkinkan- jika tidak maka dengan cara menjauhinya dengan tujuan mendidik, disertai dengan mengkomunikasikan hal ini agar tidak melakukan kesalahan.

Hadits ini dengan tegas menunjukkan tentang besarnya hak tetangga. Dan bahwa mengganggu tetangga termasuk di antara dosa besar.

Dosa Orang Yang Tetangganya Tidak Aman Dari Gangguannya

عَنْ أبي شُرَيْحٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قالَ: وَاللهِ لا يُؤْمِنُ وَاللهِ لا يُؤْمِنُ وَاللهِ لا يُؤْمِنُ. قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قالَ: الَّذِي لا يَأمَنُ جَارُهُ بَوَائِقُهُ. رواه البخاري

Dari Abu Syuraih ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu Ya Rasulullah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (H.R. Bukhari)

Penjelasan:

بوائقه Bentuk jama’ dari kata بائقة –ba’ dan qaf- berarti: bencana, pencurian, kejahatan, hal-hal yang membahayakan, hal-hal yang menjadi pelampiasan kebenciannya.

عن أبي شريح Syin dibaca dhammah, ra’ dibaca fathah, diakhiri dengan ha’ tanpa titik. Khuwailid Al-Khuza’iy as-Shahabiy.

والله لا يؤمن Diulang tiga kali, artinya tidak sempurna imannya, atau hilang iman sama sekali bagi yang menganggapnya halal, atau ia tidak mendapatkan balasan seorang mukmin sehingga dapat masuk surga sejak awal, atau pengulangan ini untuk menegaskan dan memberatkan larangan.

قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ Dalam Fathul Bari, Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa dialah yang bertanya. Rasulullah saw menjawab:

الَّذِي لا يَأمَن جَارُهُ بَوَائِقُهُ

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran tentang pentingnya hak tetangga. Sehingga Rasulullah saw harus bersumpah tiga kali, menafikan iman orang yang mengganggu tetangganya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Larangan Meremehkan Hadiah Dari Tetangga

عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ:

يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ لا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ. رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Haurairah ra berkata: Nabi Muhammad saw pernah bersabda: Wahai para wanita muslimah, janganlah ada seorang tetangga yag meremehkan hadiah tetangganya meskipun kikil (kaki) kambing. (H.R. Bukhari-Muslim)

Penjelasan:

حقر أي استصغار Meremehkan, seperti kata: احتقار والاستحقار

يا نساء المسلمات Wahai wanita-wanita muslimah, bentuk إضافة الموصوف إلى صفته /idhafah (penyandaran) maushuf (yang diterangkan) kepada sifat.

Atau bermakna lain: يا فاضلات المسلمات Wahai para pemuka muslimah, seperti ungkapan Arab يا رجال القوم: أي يا أفضلهم wahai para pemimpin kaum, artinya para pemuka mereka.

لا تحقرن Qaf dibaca kasrah, artinya jangan meremehkan, menganggap kecil.

” جارة ” هديةً ” لجارتها ” tetangga memberikan hadiah pada tetangga lainnya. Atau meremehkan hadiah dari tetangganya –Lam- bermakna –min- sehingga kemungkinan makna larangan itu pada pemberi atau penerima,

” ولو ” كانت الهدية meskipun hadiah itu berupa kaki kambing ” فرسن شاة ” fa’ dibaca kasrah, ra’ dibaca sukun/mati, adalah bagian kaki di atas telapak/tumit. Larangan bagi tetangga meremehkan hadiah tetangganya, meskipun hadiah itu pada umumnya kurang berguna, atau tidak berkenan dan tidak bernilai di hati. Dari itulah tetangga dapat memberikan dan menerima hadiah yang ada meskipun kecil nilainya. Hal ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dengan ini pula kebiasaan memberikan hadiah dapat terus berlangsung antara tetangga, karena dengan sesuatu yang murah dan mudah, dapat dilakukan dalam keadaan miskin maupun kaya, dapat membuahkan rasa cinta dan kasih sayang. Dengan ini pula tidak diperbolehkan bagi laki-laki meremehkan hadiah antara mereka. Penyebutan larangan secara khusus pada wanita karena merekalah yang lebih cepat bereaksi dalam cinta dan benci, sehingga mereka lebih berhak mendapatkan perhatian, agar dapat menghindarkan diri dari larangan itu, menghilangkan kebenciaan antara mereka dan mempertahankan rasa cinta antar mereka.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa tidak diperbolehkan meremehkan hadiah untuk mempertahankan rasa cinta antara mereka.

Barang Siapa Beriman Kepada Allah Dan Hari Akhir Maka Jangan Menyakiti Tetangga

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت. رواه البخاري ومسلم وابن ماجه

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah menghormati tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Penjelasan:

ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر” أي إيمانا كاملاً

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya: iman yang sempurna.

Penyebutan hanya pada iman kepada Allah dan hari akhir, tidak dengan kewajiban lainnya, karena keduanya merupakan permualaan dan penghabisan. Maksudnya: Beriman dengan Penciptanya dan hari mendapatkan balasan amal baik dan buruknya.

فلا يؤذ جاره Maka jangan menyakiti tetangganya.

Tidak menyakiti tetangga itu bisa diaktualkan dengan mengulurkan kebaikan kepadanya, mencegah hal-hal yang membahayakannya.

فليكرم ضيفه Hendaklah memuliakan tamunya, dengan menampakkan rasa senang, menyuguhkan hidangan yang tersedia dan terjangkau.

فليقل خيراً أو ليصمت Hendaklah berkata baik atau diam dari ucapan buruk. Sebab perkataan itu hanya dapat digolongkan menjadi dua golongan, baik atau buruk.

Hadits ini berisi tiga hal penting yang menjadi kemuliaan akhlak dalam perbuatan atau perkataan. Dua pertama yang perbuatan itu adalah yang pertama berisi takhalliy (pengosongan diri) dari sifat tercela, dan yang kedua tahalliy (berhias diri) dengan akhlak mulia. Sedangkan yang ketiga berisi akhlaq qauliyah (ucapan).

Kesimpulannya bahwa kesempurnaan iman seseorang diukur dari kebaikannya kepada sesama makhluk Allah, baik dalam tutur kata kebaikan maupun diam dari kalimat buruk, dan melakukan apa yang sepatutnya dilakukan dan meninggalkan apa yang membahayakan; antara lain adalah dengan tidak menyakiti tetangga.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa tidak menyakiti tetangga adalah bukti kesempurnaan iman seseorang kepada Allah dan hari akhir.

Hak Tetangga Yang Lebih Dekat Pintunya

عن عائشة رضي الله عنها قالت: يا رسول الله إن لي جارين فإلى أيهما أُهدي؟ قال: إلى أقربهما منك باباً. رواه البخاري

Dari Aisyah r.a. ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga, kepada tetangga yang manakah aku berikan hadiah?” Jawab Nabi, “Kepada tetangga yang pintu rumahnya lebih dekat denganmu.” (H.R. Bukhari)

Penjelasan:

باب حق الجوار في قرب الأبواب Bab: hak tetangga yang lebih dekat pintunya, artinya barangsiapa yang pintunya lebih dekat maka ia yang lebih berhak. Karena ia yang melihat apa yang keluar masuk dari rumah tetangganya; berupa hadiah dan lain sebagainya, sehingga kemungkinan ada harapan dan keinginan, berbeda dengan yang jauh pintunya.

أهدى Hamzah dibaca dhammah dari kata al-ihda’

Rasulullah saw menjawab: إلى أقربهما منك باباً Kepada yang lebih dekat pintunya. Karena ia melihat keadaan tetangga dan keperluannya. Tetangga yang lebih dekat yang lebih cepat menyahut jika dipanggil, ketika tetangga sebelah memerlukan, terutama ketika terlena.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa hak tetangga mengikuti kedekatan pintunya, yang lebih dekat pintunya yang lebih diprioritaskan dari sebelahnya, demikian seterusnya.

 

sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/adab-terhadap-tetangga/

Episode Berjilbab

Sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya mengidolakan salah seorang teman saya. Dia keturunan sunda, cantik, ramah dan pastinya pintar. Selama tiga tahun, dia menjadi juara paralel di sekolah. Juara 1 dari keseluruhan kelas yang ada di sekolah. Alhamdulillah saya sempat satu kelas dengannya pada saat kelas 2. Suatu hari, dia pernah berkata akan mengenakan jilbab jika SMU nanti. Saat itu, tanpa pikir panjang saya mengatakan keinginan yang sama.

Saat masuk SMU, saya ga inget sama sekali akan niat berjilbab itu. Ketika sekitar 3 hari menjelang masuk liburan catur wulan (cawu) kedua kelas dua SMU. Saya termangu di depan kaca. Saya berbicara pada diri sendiri dalam hati, “saat ini pemerkosaan banyak sekali. Ah, kayaknya saya akan aman kalau berjilbab.” Sudah. Begitu saja. Saya langsung mengatakan niat itu kepada Ibu. Lalu Ibu mengajak saya ke pasar untuk membeli seragam baru dan jilbab. Saat itu saya hanya punya 2 buah jilbab langsungan. 1 warna putih untuk seragam putih-abu-abu dan satu lagi warna krem untuk seragam pramuka. Terkadang saya pakai jilbab adik saya yang baru TK. Hihihi. Al hasil jika saya menunduk, maka tengkuk leher saya kelihatan.

Saya tidak ada pertimbangan macem-macem ketika memutuskan berjilbab seperti yang banyak disampaikan banyak wanita saat ini. Mulai dari alasan hati belum bersih sampai dengan belum nyiapin baju-baju dan jilbabnya. Ah, hati manusia itu sangat mudah berubah. Seperti yang saya alami. Niat baik itu bisa hilang begitu saja. Dan yang namanya manusia, tidak akan sampai titik sempurna seperti Rasululloh. Bukan berarti sudah berjilbab pun akan bebas dari penyakit hati. Tapi mungkin beda kadar dan jenis ujiannya. Kenapa kita tidak melakukan apa yang bisa kita lakukan terlebih dahulu? Berjilbab sembari membersihkan hati. Berjilbab itu jauh lebih mudah daripada membersihkan hati. Setidaknya jilbab akan menjadi benteng kita untuk berbuat dosa. Misalnya saat akan menggunjing orang lain, kita inget bahwa kita berjilbab dan menggunjing itu dosa.

Ketika baru berjilbab, bisa jadi saat bepergian yang melekat di tubuh saya bukan milik saya semua. Kemeja tangan panjang punya Papa, rok-nya punya Ibu atau Nenek dan jilbabnya punya Adik :D. Atau di lain hari saya menggunakan pakaian saya seadanya. Baju ketat tangan panjang, celana jins (kadang belel) plus sandal jepit. Boro-boro pake kaos kaki. Belum tau euy, kalau aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Saat itu juga pake jilbabnya masih On-Off. Kadang pake, kadang nggak. Ada tamu laki-laki ke rumah pun, dengan cueknya saya tidak berjilbab.

Eh, ya. Ada yang berbeda saat saya berjilbab. Saat di terminal, biasanya ada yang iseng godain. Ketika saya belum berjilbab, kalimatnya berupa pelecahan. Saya masih ingat hingga saat ini. Tapi ga akan saya tulis di sini :P. Tapi setelah saya berjilbab, paling digangguin dengan kalimat, “assalammu’alaikum.” Weeeh, malah dido’akan.

Saat itu, teman-teman kerohanian Islam (rohis)  kembali mendekati saya. Waktu kelas 1 saya pernah ikutan karena mereka promosinya memberikan latihan soal-soal ujian. Itu menarik bagi saya. Namun hanya bertahan 1 cawu. Well, kali ini mereka mengikat saya dengan memberikan amanah sebagai anggota majalah dinding dan saat ini lah saya baru ngeh kalau ternyata saya bakat nulis (heuheu). Dimana-mana, pemimpin itu adalah laki-laki. itu doktrin yang saya terima saat itum walau kemudian saat ini saya memahami, untuk lingkup tertentu dan jika kapasitas wanita lebih baik dari laki-laki, maka wanita bisa menjadi pemimpin. Saat itu, ketua bidang mading adalah laki-laki. Kalo ga salah di bidang itu kita bertiga. Tapi sekali terbit, isinya adalah tulisan saya semua. Mulai dari cerpen, info dunia Islam, dan sebagainya kecuali puisi. Angkat tangan untuk satu itu. Selesai saya tulis, lalu minta tolong teman anggota lain untuk memberi sentuhan artistik. Semuanya dikerjakan manual, wong saya aja nulisnya masih ngandelin mesin tik yang kadang kelingking saya masuk ke dalamnya.

Kegiatan saya selain sekolah, ya sibuk di rohis itu tadi. Rohis punya pembina selain guru adalah mahasiswa dari universitas negeri jambi (UNJA). Nah, kakak-kakak yang biasa ngisi kajian keputrian jilbabnya gede-gede. Saya ingat ketika itu sulit didapati jilbab bermotif atau warna-warni selain hitam, putih, biru dongker dan krem. Di kelas dua itu, saya sempat duduk sebangku dengan juara 1 paralel di SMU. Saat itu dia belum berjilbab dan ketika berjilbab dia langsung menggunakan jilbab gede. Huaaa, dia begitu cantik dan makin mengagumkan. Padahal saya duluan berjilbab, tapi ga langsung yang gede. Saya pun mulai membeli jilbab lipat, yang bisa pake peniti. Yupz! Penitian satu di bawah dagu, trus sisanya kalau ga dipenitiin lagi, diikat seperti dasi atau dipakein hiasan seperti cincin khusus jilbab, jadi tinggal masukin. That’s it. Saya juga mulai konsisten berjilbabnya, tidak On-Off lagi dan mulai berkaos kaki :). Saya juga mulai kenal nasyid dan bacaan yang lebih islami seperti majalah Annida dan Sabili.

Saya terus belajar. Suatu ketika, tetangga saya pernah mendekati saya dan meminjami buku-buku Islam. Saya seneng aja tapi ternyata buku-buku itu dari suatu aliran Islam. Bukan aliran sesat namun termasuk ekstrim. Saya sempat menerapkan dari apa yang saya baca. Ah, ternyata berat karena kurang ilmu. Diantaranya, menggunakan jilbab berwarna gelap yang ujungnya sampai ke betis dan menganggap semut itu sebagai bangkai. Di daerah asal saya, sulit mendapatkan forum-forum kajian, tidak seperti di Pulau Jawa.

Tamat SMU, saya lulus UMPTN (sekarang SNPTN) pada pilihan kedua, pendidikan kimia UNJA. Ortu berdo’anya saya lulus di pilihan pertama, kedokteran. Maapin :(. Di sini saya ikut mentoring (asistensi agama Islam) seperti yang diadakan di ITB, UGM dan universitas lainnya. Setelah itu saya ikut follow up-nya berupa liqo’. Ini titik balik saya. Di sini saya belajar lebih dalam mengenai Islam. Walau tidak semuanya saya dapat di forum ini, namun cukup menjawab kehausan akan pengetahuan Islam. Asyiknya di mentoring dan liqo’ ini, kita bisa berdiskusi masalah wanita secara lebih mendetail. Misalnya tentang haid. Kan kalau di forum kajian umum, malu euy bertanya tentang itu.

Alhamdulillah orang tua saya mendukung walau Ibu kadang riweuh melihat saya berjilbab. Duluuu, Beliau sering protes, “Tik, coba pake jilbab gaul gitu lho, yang dililit-lilitin di leher.” Jawaban pamungkas saya sih, “Ini Tika, anak Ibu. Beda dengan mereka.” Karena saya keukeuh, Ibu bosen sendiri. He… Saat di Jogja, saya coba pake jilbab gaul. Saya liat di majalah model jilbab gaul yang tetap syar’i. Oya, jilbab (dan pakaian) syar’i itu syaratnya cuma tiga:

  1. Tidak transfaran.
  2. Tidak Membentuk.
  3. Jilbab menutupi dada (batas minimal).

Well, saya hanya bertahan 3 hari. Saat menggunakan jilbab itu, saya merasa semua laki-laki sepanjang jalan memperhatikan saya. Saya merasa ditelanjangi. Walau pun saya memenuhi 3 syarat itu. Ditambah, ternyata sirkulasi ke kepala terhalang karena lilitan jilbab di leher. Jadi lebih cepat kepanasan. Apalagi Jogja yang cuacanya bikin gerah.

Itu dia episode berjilbab saya. Setiap kita pasti memiliki kisah yang berbeda dalam mendapatkan hidayah itu. Saya bisa memahami teman-teman yang jilbabnya belum memenuhi standar syar’i. Saya pikir itu bagian dari suatu proses. Hanya saja proses itu harus dimulai. Seperti proses memasak nasi. Agar beras itu berubah menjadi nasi, maka mulailah mencuci beras itu, nyalakan kompornya, dan seterusnya. Jangan lupa untuk senantiasa menjaga api selama proses itu agar tidak mati atau nyalanya terlalu besar hingga bisa menyebabkan gosong. So, mulailah untuk memenuhi standar syar’i. Gaya atau model jilbab boleh gimana aja, asal tetap syar’i.

Kita ber-Islam itu seperti menapaki anak tangga-anak tangga. Ada yang puas dengan posisinya saat ini, hingga dia diam di tempat. Namun ada yang terus menapaki anak tangga selanjutnya. Walau kadang dia terjatuh, namun dia akan bangkit kembali hingga mencapai posisi tertinggi di sisi Penciptanya.

Bumi Siliwangi, 17 Ramadhan 1431H

kala masih memulihkan kesehatan tubuh

Jika ku harus menghadap-Mu, pertemukan aku dengan-Mu

Sholatnya Seorang Wanita

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang wanita :
“Shalat di kamarmu lebih utama daripada shalat di rumahmu. Shalat di rumahmu lebih utama daripada shalat di masjid kaummu” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Hadits di atas menunjukkan bahwa lebih baik bagi seorang wanita untuk sholat di rumahnya. Namun, jika pun ingin shalat di masjid, tidak dilarang.

“Apabila wanita (istri) salah seorang darikalian meminta izin untuk ke masjid maka janganlah ia mencegahnya.” (HR. Bukhari 2/347 dalamFathul Bari, Muslim 442, dan Nasa’i 2/42)


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang wanita ketika sholat di masjid:

1. Sebaik-baik shaf seorang wanita adalah pada barisan belakang. Hal ini karena semakin jauh jarak dengan shaf laki-laki, mka akan semakin terpelihara kehormatannya dan terjaga dari maksiat. Kecuali, jika ada pembatasnya seperti tabir yang tinggi atau tembok, maka sebaik-baik shaf adalah yang paling depan (Fatawa Ash-Shiyam, Syaikh Abdullah Al-Jibrin, hal. 94)

2.  Shaf wanita dimulai dari bagian tengah, sejajar dengan posisi imam.

3. Merapikan dan meluruskan shaf

Meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah, karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم« سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ »
Dari Anas ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhori Muslim)

عن أنس بن مالك : عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال “رصوا صفوفكم وقاربوا بينها وحاذوا بالأعناق فوالذي نفسي بيده إني لأرى الشيطان يدخل من خلل الصف كأنه الحذف” . قال الشيخ الألباني : صحيح
Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian, dekatkan jarak antaranya, dan sejajarkan bahu-bahu kalian! Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seperti anak kambing.” (HR: Abu Dawud, Ahmad dan lainnya, dishohihkan oleh Imam Al-Albani)

عنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ »
Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf kalian! Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya.” (HR. Bukhari)

Seringkali kita melihat shaf bagian wanita tidak rapat. Terutama bagi mereka yang menggunakan sajadah. Yang mereka lakukan adalah merapatkan sajadahnya. Bagaimana jika sajadah kita masing-masing lebarnya 2 meter? Padahal yang terpenting adalah merapatkan bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki. Kaki dengan kaki pun perlu diperhatikan. Membuka kaki adalah tidak berlebihan, cukup selebar bahu. Karena terkadang saya temui orang yang kemudian melebarkan kakinya secara berlebihan. Hasilnya ketika bangkit dari sujud, shaf itu menjadi tidak rapat.

Rosulullah SAW pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf sahabat untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhir. Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah Umar bin Khaththab, Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus” maka Khalifah Umar pun bertakbir untuk memulai shalat berjamaah. Demikian juga hal ini dilakukan oleh Utsman bin Affan ketika menjadi khalifah.

Bahkan kita diizinkan bergerak ketika sholat untuk merapatkan shaf. Misalnya ada salah satu jama’ah yang wudhunya batal di tengah-tengah sholat, lalu dia keluar untuk berwudhu, maka kita merapatkan shaf dengan melangkah selangkah demi selangkah. Siapa yang harus bergerak? Ke arah tengah, sejajar dimana imam berdiri.

Meletakkan sutroh

Seorang wanita hendaknya meletakkan sesuatu di depannya ketika sholat sebagai penanda batasan tempat sholat. Letakkanlah seperti tas,  tidak sekedar meletakkan pena di hadapannya, karena benda begitu kecil hingga terkadang orang kurang menyadari bahwa itu pembatas.

Nah, bagi kita yang hendak lewat di depan orang yang tengah sholat, maka perhatikan posisi sutroh tersebut. Usahakan untuk tidak melangkahinya (misalnya tas) karena bisa jadi di dalamnya ada Al Qur’an. Tapi berjalanlah di belakang sutroh.

Namun, jika sholat berjama’ah, sutroh merupakan tanggungan imam. Jika ada makmun yang akan lewat di depan makmum lainnya tidak mengapa, tidak perlu menolaknya.

Dari Abdullah bin ‘Abbas, dia berkata: “Aku datang mengendarai keledai betina, waktu itu aku hampir baligh, ketika Rasulullah n melakukan shalat dengan orang banyak di Mina tanpa menghadap tembok. Lalu aku melewati depan sebagian shaf, lalu aku turun dan melepaskan keledai itu merumput. Dan aku masuk ke dalam shaf, tidak ada seorangpun yang mengingkariku”. (HR. Bukhari, no. 493; Muslim, no. 504)


Jika imamnya adalah perempuan

Apabila kaum wanita melaksanakan shalat berjama’ah yang diimami oleh seorang wanita maka sebagian ulama memandang baik, hal ini berdasarkan beberapa riwayat diantaranya riwayat dari Raithah Al Hanafiyah :

“Bahwasanya Aisyah pernah mengimami wanita-wanita pada salah satu shalat wajib, dan beliau berdiri di antara mereka” (HR. Daraquthni)

Diriwayatkan daripada Ummu Salamah رضي الله عنها:

“Bahwasanya beliau (Ummu Salamah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) mengimami para wanita; beliau berdiri di tengah (shaf)” (HR. Abdur Razzaq dan Al Baihaqi)

Berkata Syeikh Jibrin hafizahullah: “Ada pun shalat berjama’ah bagi wanita maka hal tersebut tidak mengapa dan bagi wanita yang memimpin shalat tersebut berdiri di shaf makmum, namun mereka tidak mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah sebagaimana yang diperolehi oleh kaum lelaki yang melaksanakan di masjid, dan tidak dibenarkan bagi seorang lelaki untuk meninggalkan shalat berjama’ah di masjid dengan alasan akan melaksanakannya secara berjama’ah di rumahnya bersama-sama dengan keluarga atau kaum wanita kerana mendatangi masjid untuk melaksanakan shalat fardhu adalah wajib bagi lelaki.” (Lihat Fatawa Islamiyah 1:363)

Fidyah

Berbicara tentang mengganti puasa, kita tak akan lepas dari kata “fidyah”. Berikut pembahasan tentang fidyah.

Para ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah sepakat bahwa fidyah dalam puasa dikenai pada orang yang tidak mampu menunaikan qodho’ puasa. Hal ini berlaku pada orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit dan sakitnya tidak kunjung sembuh. Pensyariatan fidyah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah: 184).[1]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”.[2]

Jenis dan Kadar Fidyah

Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa kadar fidyah adalah 1 mud bagi setiap hari tidak berpuasa. Ini juga yang dipilih oleh Thowus, Sa’id bin Jubair, Ats Tsauri dan Al Auza’i. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho’ kurma, atau 1 sho’ sya’ir (gandum) atau ½ sho’ hinthoh (biji gandum). Ini dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan dan nantinya diberi makan untuk orang miskin.[3]

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan”.[4]

Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz[5], Syaikh Sholih Al Fauzan[6] dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa Saudi Arabia)[7] mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho’ dari makanan pokok di negeri masing-masing (baik dengan kurma, beras dan lainnya). Mereka mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Ukuran 1 sho’ sama dengan 4 mud. Satu sho’ kira-kira 3 kg. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg.

Yang lebih tepat dalam masalah ini adalah dikembalikan pada ‘urf (kebiasaan yang lazim). Maka kita dianggap telah sah membayar fidyah jika telah memberi makan kepada satu orang miskin (yang mengenyangkan) untuk satu hari yang kita tinggalkan.[8]

Fidyah Tidak Boleh Diganti Uang

Perlu diketahui bahwa tidak boleh fidyah yang diwajibkan bagi orang yang berat berpuasa diganti dengan uang yang senilai dengan makanan karena dalam ayat dengan tegas dikatakan harus dengan makanan. Allah Ta’ala berfirman,

فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.

Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah tersebut. Kadarnya adalah setengah sho’ dari makanan pokok yang ada yang dikeluarkan bagi setiap hari yang ditinggalkan. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg. Jadi, tetap harus menyerahkan berupa makanan sebagaimana ukuran yang kami sebut. Sehingga sama sekali tidak boleh dengan uang. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.” Dalam ayat ini sangat jelas memerintah dengan makanan.”[9]

Cara Pembayaran Fidyah

Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara,

  1. Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja (dan tidak sanggup berpuasa)[10].
  2. Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk.[11]

Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari.[12]Al Mawardi mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”[13]

Waktu Pembayaran Fidyah

Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua[14].

Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadhan. Misalnya: Ada orang yang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya, kemudian ketika bulan Sya’ban telah datang, dia sudah lebih dahulu membayar fidyah. Maka yang seperti ini tidak diperbolehkan. Ia harus menunggu sampai bulan Ramadhan benar-benar telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga atau bisa ditumpuk di akhir Ramadhan.[15]

Semoga sajian singkat ini bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

(muslim.or.id)


[1] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1586.

[2] HR. Bukhari no. 4505.

[3] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/11538.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/21.

[5] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/203.

[6] Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Sholih Al Fauzan, 3/140.  Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 66886.

[7] Fatawa Al Lajnah  Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 1447, 10/198.

[8] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’, 2/30-31.

[9] Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Sholih Al Fauzan, 3/140.  Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 66886.

[10] Lihat Irwaul Gholil, 4/21-22 dengan sanad yang shahih.

[11] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’, 2/22.

[12] Lihat penjelasan dalam Fatawa Al Lajnah  Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 1447, 10/198.

[13] Al Inshof, 5/383.

[14] Lihat Irwaul Gholil, 4/21-22 dengan sanad yang shahih.

[15] Lihat Syarhul Mumthi’, 2/22.

Sumber: http://www.suaramedia.com/artikel/kumpulan-artikel/26575-cara-pembayaran-fidyah.html